Yang tinggal di Jakarta tentu masih ingat bagaimana hebohnya Pisang Goreng Pontianak dengan brand Pisang Pontia, makanan ini sebenarnya adalah pisang pontianak yang digoreng "kremes". Pisang Pontia sempat menyedot banyak perhatian hingga menghasilkan antrian mengular demi mendapatkannya, bahkan sempat terjadi pembatasan pembelian hingga nyamaksimal 10 biji per pembelian. Namun sekarang Pisang Pontia sudah tidak heboh lagi, salah satu outletnya di jalan alternatif cibubur sudah tutup.
Sementara itu, Roti Boy yang juga hanya menjual 1 macam makanan berbeda nasib dengan Pisang Pontia. Sampai saat ini gerai Roti Boy masih berkibar di banyak tempat. Terus apa bedanya ? Mengapa Pisang Pontia tidak bisa bertahan seperti Roti Boy ? Mengapa Pisang Pontia hanya sekedar trend sesaat ?
Yang pertama adalah masalah rendahnya entry barrier buat kompetitor atau mee too product. Kehebohan Pisang Pontia tidak disia-siakan oleh pedagang lain, maka dengan segera bermunculan banyak penjual pisang goreng pontianak "kremes" dengan rasa yang mirip bahkan lebih enak. Pedagang-pedagang itupun bahkan kreatif dengan memberikan varian rasa yang bermacam-macam. Dengan segera pula hilanglah keunikan produk Pisang Pontia.
Hal yang berbeda terjadi dengan Roti Boy. Roti Boy mungkin sebenarnya adalah roti manis/roti polo/ bun. Tapi keunikan rasa kopinya, kerenyahannya, serta komponen rasa lainnya memang tidak bisa ditiru oleh produsen lain. Keunikan inilah yang membuat konsumen mengasosiasikan erat antara brand Roti Boy dengan produknya, artinya bila diingat kata Roti Boy, maka bayangan rasanya serta tempat membelinya sudah tertanam di benak konsumen. Roti Boy is Roti Boy, it is not just an ordinary bun.
Hal yang kedua adalah menyangkut positioningnya. Pisang Pontia dengan harga Rp. 2000,- dan berjualan di kios pinggir jalan menyasar target pasar yang lebar, hampir semua orang bisa membelinya. Kondisi seperti itu membuat nilai brand Pisang Pontia tidak tinggi, begitu ada orang lain bisa membuat produk yang serupa maka orang tidak memfanatikkan dirinya untuk harus makan pisang goreng pontianak dengan brand Pisang Pontia. Berbeda dengan Roti Boy yang positioningnya lebih tinggi. Gerainya hanya terdapat di tempat-tempat tertentu seperti perkantoran, mall, atau bandara. Di sini konsumennya memang lebih peduli terhadap brand, sehingga tingkat keterikatan konsumen Roti Boy lebih tinggi.
Secara umum pelajarannya adalah Pisang Pontia dengan cepat berubah menjadi komoditas. Bila sebuah brand sudah berubah menjadi komoditas, maka nilainya menjadi sulit dipertahankan. Maka diferensiasi amatlah penting untuk menjaga "jiwa" dari brand agar tidak berubah menjadi komoditas.
Anyway, meskipun meredup, toh pemilik Pisang Pontia sudah untung besar bukan ? :-D
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Beda Pisang Goreng Pontia dan Roti Boy
Wednesday, July 30, 2008
Posted by
andri
at
6:46 PM
6
comments
Momentum Promosi Lagu
Monday, July 28, 2008
Dengan populernya ringbacktone yang konon kabar keuntungannya sudah bisa menutupi penurunan keuntungan karena pembajakan CD, maka upaya promosi untuk lagu karya musisi anak negeri makin gencar dilakukan. Lebih gurih lagi adalah kenyataan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk mempromosikan lagu dengan makin beragamnya media yang bisa digunakan.
Bila beberapa tahun terakhir radio menjadi andalan satu-satunya setelah makin sempitnya lahan menayangkan video klip, praktis hanya MTV lah yang bisa dipakai menayangkan video klip secara relatif utuh. Namun sekarang TV Nasional lain seperti SCTV, RCTI, dan ANTV kembali menayangkan acara pemutaran video klip dengan tajuk "Inbox", "Dahsyat", dan "Klik".
Tidak hanya televisi, YouTube rupanya juga menjadi ajang promosi yang seru untuk penayangan video klip utuh. Pasti hanya ampuh untuk penyanyi yang sudah terkenal ? Ternyata tidak. Sudah coba cek penyanyi pendatang baru dengan nama Aura Kasih di YouTube ? Silahkan dicek disini. Ternyata video klipnya sudah dilihat ratusan ribu kali di YouTube. Atau coba cek video klip Afgan yang tak kalah populernya disini dan disini.
Selain itu, soundtrack sinetron juga merupakan ajang ampuh untuk mempromosikan lagu, terbukti dengan makin larisnya Letto setelah lagunya menjadi soundtrack sinetron. Belum lagi ditambah iklan-iklan ringbactone lagu tertentu yang memang didesain untuk mempromosikan lagu (dan ringbacktonenya).
Jadi, bikin video klip dan promosikan lagumu sekarang ! :-D
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
9:44 AM
0
comments
Advertorial : Google & detikcom Bikin Seminar
Monday, July 21, 2008Jumlah pengguna internet terus bertambah. Bagaiamana pengusaha UKM dapat memanfaatkan peluang tersebut ? Bagaimana memanfaatkan internet untuk pengembangan bisnis UKM dengan biaya terjangkau ?
Google dan detikcom menyelenggarakan :
Seminar*
MEMANFAATKAN INTERNET UNTUK PENGEMBANGAN BISNIS
Kamis, 14 Agustus 2008, pukul 08.30
Bertempat di Ballroom 3B- 3C, The Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta
Pembicara :
- Derek Callow, Marketing Lead - Southeast Asia, Google Inc.
- Budiono Darsono, Founder, detikcom
- Robby Susatyo, Managing Director, Synovate Indonesia
TEMPAT TERBATAS !
Registrasi : Indri (021) 794 1177 ext 576 atau indri@agrakom.com
Biaya registrasi : Rp. 100.000,- termasuk free Google Adwords senilai $50, free detik Adpoint senilai Rp 250,000,- , coffee break, lunch.
*Seminar ini untuk pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah
Seminar ini juga didukung oleh :
SWA, Marketing, Franchise, dan SmartFM
Posted by
andri
at
6:47 PM
4
comments
Pameran Bukan Hanya Untuk Jualan
Sunday, July 13, 2008
Pameran merupakan salah satu ajang promosi yang populer. Seperti halnya promotional tools yang lain, keikutsertaan sebuah brand dalam pameran perlu dipersiapkan dengan seksama. Diawali dari identifikasi siapakah pengunjung pameran itu, lokasinya, dan apakah tujuan dari sebuah brand untuk berpameran.
Keikutsertaan di ajang Jakarta Fair misalnya, umumnya brand memanfaatkan ajang sebulan penuh itu dengan tujuan utama terjadinya transaksi penjualan, baik langsung ke end user maupun melalui perekrutan distributor dan outlet-outlet baru. Sementara, ajang pameran seperti Indonesia International Motor Show 2008 biasanya bukan hanya bertujuan untuk penjualan, namun juga merupakan ajang branding maupun launching produk baru. Karena IIMS bisa dibilang merupakan showcase dari para pelaku industri otomotif di tanah air.
Seperti yang dilakukan Toyota pada IIMS 2008 ini. Bila semata-semata hendak mengejar transaksi penjualan di pameran, maka Toyota tidak akan repot-repot mendatangkan i-Real, FT-HS, maupun Toyota Prius. Karena kendaraan-kendaraan itu saat ini tidak dijual di pasar Indonesia dan tentu butuh proses dan biaya yang tidak murah untuk menghadirkannya di IIMS 2008. Hal itu merupakan cara Toyota untuk menegaskan tagline "Moving Forward" kepada para pengunjung maupun media yang meliput pameran. Dengan makin tertanamnya brand credibility dari Toyota di mata pengunjung, maka produk-produk baru yang diperkenalkan di acara tersebut ( seperti Toyota Alphard baru), maupun produk-produk yang lain akan mendapat imbas nafas "Moving Forward" juga.
Jadi pameran bukan sekedar jumlah transaksi, ada tujuan lain yang bisa dicapai asal disesuaikan dengan acara, peserta, pengunjung, lokasi, dan nilai event pameran itu sendiri di mata masyarakat dan media.
NB :
- Toyota Prius adalah simbol kampanye hijau yang cukup sukses di luar sana, denger-denger ada 6 biji yang didatangkan Toyota Astra Motor untuk diujicoba
- Toyota Yaris yang dimodif ternyata keren juga , seru juga kalau melengkapi line-up Toyota di rumah, ada yang punya pengalaman ?
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
4:28 PM
8
comments
Mengenal Segmen Upper Market
Wednesday, July 09, 2008
Pasar kelas atas merupakan pasar yang sangat menjanjikan, Nielsen menyebutnya dengan istilah Upper Market. Orang-orang di segmen inilah yang disebut gak ada matinya ! alias relatif tidak terpengaruh terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok. Menurut Nielsen, segmen upper market ini mencapai 1,6% dari populasi Jabodetabek dan 2,3% dari populasi Surabaya. Nah siapa saja yang disebut upper market oleh Nielsen ?
Kriteria Upper Market menurut Nielsen adalah:
Nah, sudah tahu kriterianya ? Jadi ini memang segmen yang menarik bagi para marketer.
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspiras dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Posted by
andri
at
1:21 PM
2
comments
AISAS, Perubahan Konsumen di Era Internet
Wednesday, June 25, 2008
Alur interaksi antara konsumen dengan brand/product sebelumnya dikenal secara umum melaluoi alur AIDA (Awaraness - Interest - Desire - Action). Namun kehadiran internet telah merubah paradigma konsumen, sehingga Dentsu memperkenalkan AISAS sebagai pola baru interaksi antara konsumen dengan produk atau brand.
AISAS adalah kepanjangan dari Awaraness - Interest - Search - Action - Share.
Awaraness adalah kata lain dari "Tak Kenal Maka Tak Sayang". Sebuah produk harus diperkenalkan kepada target marketnya. Perkenalan itu bisa dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan komunikasi marketing (above the line maupun below the line) dan Public Relation. Syukurlah dengan hadirnya era internet ini, maka pilihan memperkenalkan produk bisa dilakukan melalui berbagai cara yang relatif murah, seperti melalui email, milist, viral, hingga iklan di media online. Tentu saja hal ini menambah jalan untuk membuat orang mengenal produk kita.
Interest adalah proses berikutnya, calon konsumen tertarik dengan produk kita. Ketertarikan itu bisa terjadi karena memang komunikasi yang tepat bagi calon konsumen. Sebagai tambahan, di era internet ini, ketertarikan ini bisa juga terjadi apabila konsumen merasa tertarik dengan informasi yang terpapar di website kita, sehingga bagaimana menyusun sebuah website yang sesuai dengan tujuannya serta membangun pengalaman yang tepat, nyaman, dan menyenangkan saat orang menggali informasi di website juga bisa meningkatkan ketertarikan konsumen pada produk.
Search ini merupakan berkah bagi konsumen dengan adanya Google, sebelum mengambil keputusan, maka konsumen akan berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya lewat search engine. Product review, tulisan di blogs, website-website lain, milist, dan semua informasi akan terpampang dengan jelas di Google, inilah yang membantu konsumen untuk mengambil keputusan. Hal ini juga sejalan dengan data riset yang saya miliki bahwa internet user di Indonesia menganggap internet adalah jenis media nomer 1 yang membantu mereka dalam mendapatkan informasi dan juga dalam mendukung keputusan pembelian (dalam 2 fungsi tersebut, ternyata internet mengalahkan semua jenis media lain).
Action adalah tindakan konsumen, disinilah the real experience tercipta. Proses interaksi langsung antara konsumen dengan sales channel kita, transaksi, delivery, konsumsi, hingga after sales service merupakan satu kesatuan pengalaman yang benar-benar harus senantiasa dijaga agar sesuai bahkan melebihi ekspektasi dari konsumen.
Share adalah hasil setelah konsumen merasakan semua pengalaman interaksi mereka dengan produk/brand, mereka akan membagi pengalamannya kepada orang lain melalui email, chat, blogs, mailist, online forum, dan lain-lain. Sehingga pengalaman baik ataupun buruk akan mudah tersebar ke banyak orang, dan juga akan terendus oleh search engine.
Dari proses tersebut diatas, maka semua brand owner maupun pemilik produk mesti mengasah lagi pisau kreatifitasnya dalam menyikapi perubahan paradigma konsumen tersebut. Dan begitu banyak peluang dan juga tantangan yang mesti disiasati.
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
7:00 PM
10
comments
Tony Fernandez dan Air Asia
Tuesday, June 10, 2008
Pada kesempatan mengikuti Asia Pasific Media Forum 2008 di Bali, saya cukup beruntung bisa ikut mendengarkan materi dari para pembicara yang sebagian cukup inspiratif. Salah satu yang paling menginspirasi adalah Tony Fernandez, CEO AirAsia, yang pada event itu diundang sebagai keynote speaker. Kebetulan Tony Fernandez -dan AirAsia- adalah salah satu yang saya kagumi. Prestasi Air Asia yang beragam, mulai keberhasilannya dalam mengembangkan Air Asia sebagai low cost carrier yang disegani, hingga prestasinya masuk dalam jajaran "50 Most Innovative Companies in The World" versi majalah Fast Company, sesuatu yang amat sangat jarang diraih oleh perusahaan dari kawasan Asia Tenggara. Dalam kesempatan itu, Tony Fernandez menceritakan sejarah Air Asia dan juga kiat-kiatnya dalam memberi sentuhan inovatif bagi bisnis penerbangan.
Presentasi dibawakan dengan sangat menarik dan penuh humor oleh Tony Fernandez. Magnet kemampuan panggungnya memang luar biasa, jadi perhatian peserta tidak tertuju pada slidenya tapi kepada dia. Dan juga banyak sekali kata-kata yang bisa diquote dari pemaparannya.
Sebagai orang berlatar belakang finance, maka memang kekuatan pengelolaan finance menjadi salah satu syarat bagi low cost carrier. Namun sebagai CEO, Tony juga menyatakan bahwa amatlah penting untuk menjadi marketing driven company. Sehingga Air Asia sangat serius membangun brand, termasuk dengan upaya co-branding dengan Manchester United (meskipun Tony penggemar West Ham :-) ) dan Williams F1, juga upaya mengelola Public Relation yang baik dengan menjaga hubungan keterbukaan dengan media. Salah satu ciri keterbukaan Air Asia antara lain berita tentang Air Asia di media selalu secara detail menyebutkan nama nara sumber di Air Asia, bukan sekedar menyebutkan "menurut juru bicara Air Asia".
Inovasi juga merupakan hal yang penting dalam segala lini bisnisnya. Misalnya, Air Asia berinovasi dalam membuka rute-rute menuju kota yang sebelumnya jarang diterbangi, seperti Bandung-KualaLumpur, atau Solo-KualaLumpur. Tentu saja itu semua di drive oleh kalkulasi bisnis dan keberanian sang CEO. Inovasi lain adalah keberanian menggunakan internet sebagai satu-satunya channel penjualan tiket, sebelum akhirnya sekarang melebar ke channel lain, namun tetap internet yang menyumbang 75-80% pendapatan mereka.
Human Resource adalah hal yang menjadi perhatian Air Asia, Tony menyebut "Sky is The Limit" untuk karir pegawainya. Ada kisah porter menjadi pilot (setelah dia menunjukkan minatnya, kemudian disekolahkan, dan lulus tes), juga ada pramugari jadi pilot kemudian menang Miss Thailand dan balik jadi pilot lagi, dan banyak kisah karir lain. Tony juga menjalin hubungan dengan semua karyawannya dengan cara membuka nomer handphone dan emailnya untuk semua karyawan, sehingga semua karyawan bisa memberikan masukan atau mengutarakan keiinginannya secara langsung ke sang CEO.
Sesungguhnya, banyak yang bisa dipetik dari uraian Tony, namun ada satu yang saya ingat terus"If you are small, don't be afraid !"
What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
2:58 PM
7
comments