Sekarang sebagian penumpang Southwest Airlines terbang ditemani foto aduhai Bar Rafaeli, model cantik yang kabarnya merupakan pacar dari Leonardo di Caprio, dengan swimsuit. Foto itu sendiri merupakan bagian dari promosi edisi swimsuit dari Sports Illustrated.
Kehadiran gambar perempuan cantik berswimsuit tentu menimbulkan kontoversi. Sebagian penumpang menjadi risih karena membayangkan dia harus mengajak keluarganya naik pesawat itu. Sementara sebagian penumpang yang lain menganggap hal tersebut tidak ada pengaruhnya karena memang Southwest Airlines dipilih karena murah.
Tapi bagi Southwest Airline dan Sports Illustrated, kontroversi yang terjadi bahkan hingga menjadi pemberitaan di banyak media tentu merupakan promosi yang murah dan menjangkau banyak massa. Bahkan Bar Rafaeli pun sampai diwawancarai di acara talkshow Letterman yang terkenal itu. Liputan yang sedemikian besar merupakan promosi besar di era krisis di Amerika sana.
What do you think ?
Posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
photo was taken from here
Marketing dengan Kontroversi : Southwest Airline + Sports Illustrated
Friday, March 20, 2009
Posted by
andri
at
4:35 PM
View Comments
Links to this post
Greg Stuart : Don't Look to Clicks !
Friday, February 13, 2009
Greg Stuart akan hadir di Indonesia ! Lihat info lengkapnya disini
Posted by
andri
at
2:48 PM
View Comments
Links to this post
Runtuhnya Nokia Communicator ?
Tuesday, February 03, 2009
Selama ini Nokia Communicator boleh dibilang rajanya handphone papan atas di Indonesia. Bentuknya yang segepok dianggap mewakili status pemiliknya. Meskipun tidak banyak fitur yang dikuasai, namun banyak yang memilikinya sebagai tuntutan gaya hidup. Namun, 2008 telah mencatat goyahnya Nokia Communicator di negeri ini, Blackberry mencatatkan peningkatan pengguna yang luar biasa selama 2008. Apakah Nokia Communicator segera mati ?
Jumlah pengguna Blackberry di Indonesia di tahun 2008 diperkirakan 70.000 - 80.000 orang , selain itu secara kasat mata juga bisa dilihat popularitas Blackberry di Jakarta. Kalau boleh dibilang bahwa 2008 adalah tahunnya BlackBerry dan Facebook. Pertumbuhan Blackberry di Indonesia bukan semata-mata karena kapabilitasnya yang mendukung kegiatan bisnis, tapi juga karena Blackberry - seperti Communicator sebelumnya- adalah bagian dari gaya hidup. Selain itu juga didorong dengan diperkenalkannya paket BlackBerry pra bayar oleh para operator.
Tahun ini, 2009, mungkin adalah tahun yang berat bagi Nokia untuk mempertahankan leadershipnya di handphone kelas atas. Selain serbuan Blackberry, sebentar lagi kabarnya akan ada operator telekomunikasi yang meluncurkan paket iPhone (baca:resmi dan legal). Dua raksasa itu memang rajanya pasar smartphone serta berhasil membawa gaya hidup baru bagi para pemakainya. Nokiapun mencoba bertahan dengan seri E nya, namun sepertinya tidak cukup untuk menghadapi Blackberry dan iPhone.
Apakah 2009 merupakan akhir kisah sukses Nokia Communicator di Indonesia ? What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
10:14 AM
View Comments
Links to this post
Labels: blackberry, communicator, handphone, iphone, ponsel
2009, Pemilu, Marketer Pusing
Monday, January 12, 2009
Tahun 2009 adalah Tahun Pemilu. 38 Partai + 6 partai lokal Aceh , serta ribuan Caleg ( DPR, DPRD) dan juga DPD memeriahkan pelaksanaan Pemilu. Upaya untuk dipilih tentu membuat semua pihak peserta Pemilu berlomba-lomba berkampanye dengan berbagai cara. Hal ini juga membuat para marketer pusing , tentu yang dimaksud marketer disini adalah selain marketer yang menangani para peserta Pemilu.
Dengan sedemikian banyak pihak menjadi peserta Pemilu, maka merekapun menggunakan aktifitas promosi besar-besaran. Spanduk, kaos, flyer, pamflet, poster, baliho, billboard, dan sticker adalah media yang sudah secara kasat mata dipenuhi oleh caleg maupun partai-partai. Demikian pula TV, printAd (koran dan majalah), serta radio. Apalagi dengan keputusan MK yang menetapkan caleg terpilih adalah caleg dengan suara terbanyak. Maka makin berlomba-lombalah mereka mempromosikan dirinya.
Marketer (non marketer politik) tentu mendapat tantangan dari kondisi ini dalam melaksanakan strategi dan taktik marketingnya, terutama dalam proses komunikasi ke konsumen. Bayangkan saja, bagaimana menyiasati outdoor communication produk di tengah "sampah" visual yang disebabkan bendera, baliho, dan poster peserta pemilu. Bagaimana caranya billboard atau poster produk para marketer bisa tetap terlihat ?
PrintAd dan TVC pun menjadi ajang rebutan yang sengit, bagaimanapun budget partai-partai di pusat hingga caleg-caleg di daerah juga cukup besar sehingga mampu membeli printAd sehalaman penuh misalnya. Para marketer tentu cukup pusing untuk menyiasati hal tersebut.
Beberapa marketer sudah menyiapkan berbagai antisipasi atas keadaan itu. Kabarnya salah satu perusahaan rokok memotong budget billboardnya hingga 75% di tahun 2009 ini, mungkin hal ini salah satunya disebabkan untuk antisipasi kondisi lapangan di tahun Pemilu. Atau mungkin juga, seperti kata rekan Firman Fajar di milist marketing-club, langkah XL dengan memilih simpanse sebagai bintang iklan merupakan antisipasi persaingan dengan iklan wajah caleg ? :-)
What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
11:00 AM
View Comments
Links to this post
Sudahkah Mengenal Konsumen Muda ?
Wednesday, November 26, 2008





Foto2 dari HelloFest sabtu 22 Nov 2008 di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto Jakarta.
Inilah potret (sebagian) anak muda sekarang yang sangat berani berkespresi dan kreatif.
Acaranya sendiri merupakan festival film pendek (maksimal 10 menit) yang tahun ini diikuti 131 karya film anak negeri (animasi maupun non-animasi) yang disaring jadi 20 finalis kemudian ditonton bareng2 oleh banyak orang (tanpa kategori film), dan kemudian dipilih film terbaik menurut penonton. Selain itu, penonton juga diharapkan datang berkostum (cosplayer) serta ada kontes khusus untuk cosplayer tersebut yang tahun ini diikuti 130 orang (namun lebih dari 200 cosplayer yang hadir berkostum di acara tahun ini). Acaranya seru dan didatangi oleh ribuan orang.
Seperti itulah potret anak muda sekarang. Ekspresif dan kreatif. Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar mengenal mereka sebagai konsumen ?
Sampai Jumpa di HelloFest tahun depan !
Posted by Andrias Ekoyuono
For Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
photos koleksi pribadi dan dari panitia
Posted by
andri
at
2:00 PM
View Comments
Links to this post
Iklan Prabowo dan Iklan Sutrisno Bachir
Monday, October 20, 2008Minggu lalu, Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis survey terbaru tentang calon presiden RI. Seperti disebutkan disini :
Hasilnya, SBY memperoleh 32 persen suara, Mega 24 persen, Wiranto 6 persen, Prabowo 5 persen dan Sri Sultan 4 persen, Hidayat Nurwahid 3 persen, Amien 3 Persen. Sedangkan Jusuf Kalla (JK) hanya memperoleh suara 2 persen
Yang menarik adalah hasil berbeda yang didapat oleh 2 capres yang beriklan secara masif, Prabowo dan Sutrisno Bachir (SB). Prabowo berhasil menyeruak ke peringkat 4, sementara Sutrisno Bachir tidak berhasil menapaki 8 besar. Kenapa ?
Yang pertama tentu faktor nama Prabowo yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat dibanding Sutrisno Bachir, sehingga modal awarenessnya sudah ada.
Namun bukan itu saja penyebabnya. Iklan-iklan SB di media bahkan di jalanan sepanjang jalur mudik tentu berhasil membuatnya lebih dikenal. Tapi kenapa ketika responden diminta menyebutkan siapa capres yang dia pilih seandainya pemilu diadakan hari itu, maka nama Sutrisno Bachir kalah dibanding Prabowo yang baru-baru saja beriklan ?
Salah satu sebabnya adalah komunikasi iklan yang dilakukan. Iklan SB memang berhasil menciptakan awareness, tapi sayang momentum yang bagus tidak diteruskan dengan mengkomunikasikan "reason to choose" bagi para pemilih untuk memilih SB. Sementara iklan Prabowo cerdik dalam memilih isu-isu pertanian dan pasar tradisional yang dekat dengan keseharian banyak orang, sehingga setelah awareness terbentuk, maka iklan itu memberikan alasan bagi pemilih untuk memilihnya.
Menurut Anda ?
Hmm...Pemilu masih panjang, kita tentu akan makin sering melihat dinamika komunikasi partai, caleg, maupun capres. Mari sama-sama saksikan tontonan ini :-)
Posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
1:46 PM
View Comments
Links to this post
Marketing Politik
Thursday, September 25, 2008
Ranah dunia perpolitikan Indonesia mulai menghangat lagi menjelang Pemilu 2009. Hajatan 5 tahunan ini juga menjadi hajatan besar bagi para marketer, khususnya rekan-rekan advertising agency hingga produksi. Iklan TV. printAd, hingga spanduk dan kaos adalah sarana partai, (bakal) capres, dan caleg memperkenalkan dirinya.
Suasana hangat bisa dirasakan dari layar kaca. Iklan Sutrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Prabowo, dan lain-lain berseliweran mencoba menarik perhatian. Tidak kalah ramai juga iklan partai-partai seperti Demokrat, Hanura, hingga Gerindra. Demikian juga suasana jalanan sudah dimeriahkan dengan berbagai umbul-umbul, spanduk, dan bendera.
Politik memang ladang yang gurih untuk dimarketingkan. Bukan hanya Pemilu DPR dan Pilpres saja, Pilkada Langsung telah menyebabkan jumlah hajatan politik berlipat ganda. Coba hitung saja, ada berapa banyak kabupaten/kota dan propinsi, dan kalikan dengan jumlah calon kepala daerah, maka didapatkan potensi besar bagi marketer.
Namun marketing politik tidaklah mudah. Kita mulai saja dari target marketnya. Para pemilih tersebar dalam beragam segmen: usia muda hingga tua, tinggal di kota maupun desa, pria dan wanita, agama yang berbeda, miskin hingga kaya, tidak berpendidikan hingga doktor, dan lain-lain. Jadi target marketnya beragam sekali, susah sekali bila hanya mengandalkan suara dari 1 segmen saja untuk menang. Karena target market beragam, maka komunikasi yang diciptakan tentu akan berbeda di tiap segmen.
Karena beragam itulah, maka komunikasi Above The Line (ATL) via iklan (TV, radio, koran) sering menjadi pilihan pertama. Namun itu semua hanya menghasilkan Awaraness semata. Sementara dalam teori klasik tentang hubungan kepada calon konsumen mengikuti alur AIDA (Awaraness Interest Desire Action) atau AISAS (Awaraness Interest Search Action Share) bagi konsumen di era internet. Jadi akibatnya bila hanya sebatas komunikasi ATL, maka masih jauh untuk mendapatkan suara pemilih. Idealnya dilakukan kombinasi kegiatan marketing hingga pemilih melakukan "Action". Maka tidak heran bila calon/partai -seperti halnya produk- kerap mengumbar gimmick dan bonus agar pemilihnya tidak berpaling :-)
Sales force juga merupakan faktor yang sangat penting dalam keseluruhan elemen marketing. Nah dalam politik, sales force ini adalah para kader. Seperti halnya sales force, maka memang sulit untuk mengharapkan kader bekerja keras menjual calon/partai apabila tidak ada insentif yang memadai. Insentif yang diharapkan para kader itu bisa berupa finansial, sosial, emosional, maupun tujuan religius. Sehingga perlu disusun dengan cermat program pengembangan kader termasuk insentifnya.
Kesimpulannya, marketing politik bukanlah hal yang sederhana. Ada yang mau nambahin ?
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspiras dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
11:30 PM
View Comments
Links to this post