IPDN : hasil rebranding setengah hati

Wednesday, April 25, 2007

Kasus kekerasan di IPDN mencuat akhir-akhir ini, namun saya tidak akan membahas pro kontra pembubarannya seperti oleh mbakyu venus atau blog yang tidak tahu siapa pembuatnya ini. Seperti kita ketahui, setelah kasus kekerasan yang menimpa Wahyu Hidayat terkuak di 2003, pemerintah berupaya merubah nama STPDN menjadi IPDN dengan harapan juga akan terjadi perubahan didalam maupun perubahan image STPDN di mata masyarakat. Itulah yang disebut re-branding.

Menurut wikipedia :

Rebranding is the process by which a product or service developed with one brand or company or product line affiliation is marketed or distributed with a different identity. This involves radical changes to the brand's logo, brand name, image, marketing strategy, and advertising themes. It usually results in the repositioning of the brand / company. It may just involve merely superficial changes. Rebranding can be applied to either new products, mature products, or even unfinished products. The process can be done purposely (for example as a result of a deliberate change in strategy), or result from unplanned, emergent, or reactive dynamics (for example out of necessity following corporate restructuring).
Selain oleh STPDN/IPDN, beberapa tahun terakhir ini re-branding juga dilakukan oleh XL ( excelcom menjadi XL ), juga oleh BII, BNI, SCTV, Pertamina, dan lain-lain. Tapi memang akhir-akhir ini banyak perusahaan melakukan usaha re-branding sebagai upaya repositioning mereka dalam menghadapi iklim kompetisi yang makin ketat.

Namun rebranding bukan hanya ganti nama atau logo, adalah lebih penting lagi bagaimana jiwa perubahan tersebut bisa diimplementasikan dalam strategi yang nyata dan benar-benar harus dijiwai oleh semua karyawan dan partners, sehingga konsumen dan masyarakat bisa benar-benar menerima perubahan tersebut. Tanpa strategi nyata, maka yang berubah hanyalah nama/logonya, maka ya sama saja.Seperti yang kejadian di IPDN, meskipun sudah ganti nama tapi bila sistem dan perilaku karyawan dan mahasiswanya tetap saja, maka sami mawon ! Masyarakat akhirnya tetap tidak melihat sebuah perubahan. Salah satu proyek re-branding yang juga cukup menantang adalah Pertamina, pergantian logo Pertamina tentu saja diharapkan juga diikuti peningkatan kinerja dan layanan Pertamina menghadapi era persaingan yang makin ketat. Nampaknya Pertamina sadar akan hal itu, salah satunya dengan program Pertamina on The Move, contohnya dengan memperbaiki penampilan fisik dan layanan di SPBU.

Namun sepertinya yang lebih perlu dilakukan re-branding adalah Indonesia :-) Re-branding bukan dilakukan dengan mengganti nama dan bendera, tapi bagaimana menampilkan perubahan Indonesia di mata masyarakat Indonesia maupun dunia.

what do you think ?

posted by Andrias Ekoyuono ( andri )
picture taken from
here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Mau ?

Tuesday, April 17, 2007

Industri telekomunikasi Indonesia makin ramai setelah diluncurkan 3 (Three) sebuah brand dari perusahaan telekomunikasi Hutchinson dengan tagline "Jaringan Selularmu". Akhir-akhir ini, iklannya telah wara-wiri di berbagai stasiun TV dengan frekuensi cukup tinggi. Juga telah muncul banyak baliho di berbagai tempat, serta juga telah muncul berbagai material promosinya di tempat-tempat penjualan handphone dan pulsa.

Iklan TV ( TVC ) dari 3 ini sudah ada 2 versi. Versi 1 menampilkan berbagai hal yang merupakan beberapa pencapaian kebahagiaan emosional yang diinginkan seseorang, seperti gambar orang menikah lalu juga gambar orang meloncat ke air dengan bahagia. Di versi 1 ini nampaknya digunakan untuk menanamkan kata "Mau ?" di benak para pemirsa. Sementara di iklan versi 2 menekankan pada Beli pulsa dapat 3X lipatnya.

Iklan versi 1 itu secara eksekusi bagus sekali, saya cukup salut melihat eksekusi iklannya yang menyentuh emosional serta cukup berbeda dengan operator selular lain. Namun iklan versi 2 sepertinya langsung menukik dengan menawarkan pulsa 3X lipatnya yang menjadi tidak berbeda dengan operator lain. Saya coba mengumpulkan pendapat dari beberapa rekan saya tentang iklan 3 ini, rata-rata mereka suka dengan iklan 3 versi 1. Namun ketika ditanya apakah mereka ingin membeli 3, maka hampir semuanya menjawab tidak, bahkan setelah melihat penawaran pulsa 3X lipat itu.

Memang diperlukan usaha yang luar biasa dari 3 dan juga operator-operator baru lain yang akan menyusul ( NTS, Sinar Mas Telecom ) untuk mencuri market share. Langkah awal Hutchinson dengan menyiapkan jalur distribusi yang kuat bagi 3 sudah benar, terbukti telah banyak toko di Jakarta yang menjual kartu perdananya. Langkah berikutnya dengan melaunching iklan 3 versi 1 yang menyentuh emosional cukup bagus untuk membangun awareness, khususnya bagi segmen menengah keatas yang menjadi target market dari operator pemilik lisensi 3G ini.

Namun komunikasi berikutnya ( iklan versi 2 maupun printAD dan baliho-baliho ) dengan langsung menawarkan pulsa 3X lipat sepertinya kok tidak memberi cukup alasan bagi calon konsumen untuk mencoba 3. Semua operator saat ini telah punya tawaran pulsa murah, mengapa harus mencoba 3 yang notabene operator baru yang belum tahu kualitasnya ? Jangan-jangan sinyalnya masih belum kuat di Jakarta ? Jangan-jangan susah dihubungi seperti ketika masa awal operator lain ?

Menurut saya, 3 mesti melakukan komunikasi tentang jaringannya yang kabarnya telah cukup luas dan mumpuni kualitasnya, sehingga dapat sedikit menghapus keraguan calon konsumen. Selain itu, event-event BTL (Below The Line) harus kencang dilakukan agar para calon konsumen bisa mencoba sendiri bagaimana kualitas dari 3 ini. Event BTL bisa dilakukan dengan pameran-pameran di Mall, promo ke kantor-kantor/sekolah, maupun event-event musik, dan lain-lain.

Mengingat begitu besarnya potensi pasar, maka 3 ini masih memiliki potensi untuk merebut pasar asalkan melakukan strategi marketing dan sales yang tepat. Tentu saja Hutchinson juga tidak mau investasi yang kabarnya mencapai 1,5 milyar dollar menjadi sia-sia :-)

what do you think ?

posted by andrias ekoyuono ( andri )
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Ahmad Dhani juga Seorang Marketer

Monday, April 16, 2007

Lagu “Virus Cinta” dari Dewi-Dewi cukup akrab di telinga kita dalam berberapa saat terakhir. Lagu itu menjadi jingle salah satu iklan produk elektronik “Sharp” yang belakangan sangat intensif di putar di TV. Belive it or not, album Dewi-Dewi bahkan belum beredar ! Namun pemutaran lagu itu di televisi sangat efektif untuk memperkenalkan lagu dan grup musik baru tersebut. Tentu saja hal itu adalah keuntungan juga bagi awaraness produk Sharp .

Dewi-Dewi adalah grup bentukan Ahmad Dhani. Sejak awal Ahmad Dhani sudah memiliki konsep untuk membentuk grup dengan personel cewek-cewek yang enak dinikmati suaranya dan juga penampilannya. Sejak awal dia telah menyiapkan materi lagu dan konsep penampilan grup itu, baru kemudian Ahmad Dhani dan manajemennya (serta personel Dewa19 yang lain) melakukan audisi terbuka yang bekerja sama dengan SCTV serta StarMild untuk mencari personelnya. Sehingga bisa dibilang bahwa Dewi-Dewi merupakan karya Ahmad Dhani dan manajemennya. Hasilnya bisa dibilang bagus karena brand Dewi-Dewi telah menghasilkan pemasukan lewat iklan dan sponsorship, bahkan ketika personelnya belum ada !

Ahmad Dhani boleh dibilang adalah salah satu dari sedikit seniman musik yang mengerti pasar secara sesungguhnya. Dia tidak memaksakan jenis lagu favoritnya bagi sang penyanyi, tetapi mampu menyesuaikan antara lagu, selera pasar, karakter suara, penampilan, dan konsep pendukungnya bagi sang penyanyi. Artinya dia bukan sekedar menciptakan lagu yang bagus, tapi mampu membaca potensi dari para penyanyi serta menciptakan positioning baru dengan segala atributnya bagi mereka. Reza adalah salah satu penyanyi yang “dibesarkan” oleh Dhani. Pada album pertama Reza, Dhani meminta Reza untuk mengoptimalkan suara rendahnya -yang sebelumnya jarang dipakai- serta mempositioningkan Reza sebagai penyanyi dengan sentuhan R&B dan kesan sexy lewat suara dan penampilannya. Hasilnya album perdana Reza sukses besar. Kesuksesan juga terjadi pada album perdana Tere, Ahmad Band, duet Reza-Masaki Ueda, dan lagu-lagu hits dari penyanyi lain. Uniknya, lagu-lagu hits itu boleh dibilang tidak memiliki karakter yang sama, namun lagunyalah yang disesuaikan dengan para penyanyinya.

Dhani pula yang kabarnya berada dibalik kesuksesan Ratu melakukan repositioning sehingga menciptakan pasar yang lebih luas di album keduanya. Dewa 19 juga merupakan satu dari sedikit grup band era 90-an (selain Slank) yang masih terus menciptakan hits sampai sekarang dan albumnya masih terus menerus laku diatas ratusan ribu copy. Dewa 19 memang bertahan dengan evolusi musik maupun penampilan seiring dengan perubahan (terutama) vokalisnya. Segala kontroversi yang sengaja maupun tidak sengaja diciptakan Dhani membuat namanya juga terus menerus menjadi berita di media, selain ada efek negatifnya tetapi bad publicity is also a publicity, hahaha.

Dari uraian itu bisa dilihat bahwa musisi dan seniman pun perlu menjadi seorang marketer untuk dapat meraih dan mempertahankan kesuksesan.

What do you think ?

posted by andrias ekoyuono ( andri )
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...