Tony Fernandez dan Air Asia

Tuesday, June 10, 2008


Pada kesempatan mengikuti Asia Pasific Media Forum 2008 di Bali, saya cukup beruntung bisa ikut mendengarkan materi dari para pembicara yang sebagian cukup inspiratif. Salah satu yang paling menginspirasi adalah Tony Fernandez, CEO AirAsia, yang pada event itu diundang sebagai keynote speaker. Kebetulan Tony Fernandez -dan AirAsia- adalah salah satu yang saya kagumi. Prestasi Air Asia yang beragam, mulai keberhasilannya dalam mengembangkan Air Asia sebagai low cost carrier yang disegani, hingga prestasinya masuk dalam jajaran "50 Most Innovative Companies in The World" versi majalah Fast Company, sesuatu yang amat sangat jarang diraih oleh perusahaan dari kawasan Asia Tenggara. Dalam kesempatan itu, Tony Fernandez menceritakan sejarah Air Asia dan juga kiat-kiatnya dalam memberi sentuhan inovatif bagi bisnis penerbangan.


Presentasi dibawakan dengan sangat menarik dan penuh humor oleh Tony Fernandez. Magnet kemampuan panggungnya memang luar biasa, jadi perhatian peserta tidak tertuju pada slidenya tapi kepada dia. Dan juga banyak sekali kata-kata yang bisa diquote dari pemaparannya.

Sebagai orang berlatar belakang finance, maka memang kekuatan pengelolaan finance menjadi salah satu syarat bagi low cost carrier. Namun sebagai CEO, Tony juga menyatakan bahwa amatlah penting untuk menjadi marketing driven company. Sehingga Air Asia sangat serius membangun brand, termasuk dengan upaya co-branding dengan Manchester United (meskipun Tony penggemar West Ham :-) ) dan Williams F1, juga upaya mengelola Public Relation yang baik dengan menjaga hubungan keterbukaan dengan media. Salah satu ciri keterbukaan Air Asia antara lain berita tentang Air Asia di media selalu secara detail menyebutkan nama nara sumber di Air Asia, bukan sekedar menyebutkan "menurut juru bicara Air Asia".

Inovasi juga merupakan hal yang penting dalam segala lini bisnisnya. Misalnya, Air Asia berinovasi dalam membuka rute-rute menuju kota yang sebelumnya jarang diterbangi, seperti Bandung-KualaLumpur, atau Solo-KualaLumpur. Tentu saja itu semua di drive oleh kalkulasi bisnis dan keberanian sang CEO. Inovasi lain adalah keberanian menggunakan internet sebagai satu-satunya channel penjualan tiket, sebelum akhirnya sekarang melebar ke channel lain, namun tetap internet yang menyumbang 75-80% pendapatan mereka.

Human Resource adalah hal yang menjadi perhatian Air Asia, Tony menyebut "Sky is The Limit" untuk karir pegawainya. Ada kisah porter menjadi pilot (setelah dia menunjukkan minatnya, kemudian disekolahkan, dan lulus tes), juga ada pramugari jadi pilot kemudian menang Miss Thailand dan balik jadi pilot lagi, dan banyak kisah karir lain. Tony juga menjalin hubungan dengan semua karyawannya dengan cara membuka nomer handphone dan emailnya untuk semua karyawan, sehingga semua karyawan bisa memberikan masukan atau mengutarakan keiinginannya secara langsung ke sang CEO.

Sesungguhnya, banyak yang bisa dipetik dari uraian Tony, namun ada satu yang saya ingat terus

"If you are small, don't be afraid !"
What do you think ?



posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia

7 comments:

Anonymous said...

Seorang pimpinan memang harus punya visi kedepan, punya mimpi, yang kemudian ditindaklanjuti. Dan karena bisnis penerbangan sangat ditentukan pelayanan, maka kepuasan karyawan adalah yang utama, dengan memberi kesempatan peningkatan karir, dengan catatan, jika memang layang dan lulus test. Orang yang puas, dan atau orang yang bahagia akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada orang lain.

Namun finance juga penting, karena untuk mengendalikan bisnis yang besar, apalagi yang bentuknya low cost carrier, maka strategi keuangannya harus berorientasi kedepan, memonitor tak ada kebocoran...karena sebetulnya dari segala ramuan yang ada (pelayanan, marketing, operasional dsb nya), ujungnya adalah hasil laba/rugi yang dapat dilihat dari laporan keuangan. CEO yang baik harus bisa baca laporan keuangan, karena dari sini akan ketahuan jika ada angka yang meragukan, atau ada hal yang menakjubkan dan harus bisa dimitigasi dari mana asal usulnya.

Thanks ceritanya.....sayang belum pernah nyoba pesawat ini (soalnya ga pake makan sih...jadi kalau dalam negeri ya tetap Garuda, karena sering terburu-buru dan baru bisa makan di pesawat).

mojo said...

what if im big? should i be afraid?
;)

Anonymous said...

Dalam rentang enam bulan terakhir, saya sudah dua kali 'mencicipi' Air Asia Indonesia. Di luar kemudahan dan kepraktisan transaksi online-nya yang masih nomor satu di Indonesia, kualitas layanannya semakin berkurang. Yang namanya delay sudah menjadi rutinitas dan semakin parah karena rentang waktu delaynya semakin panjang. Komplain-komplain penumpang 'korban' Air Asia di surat pembaca berbagai media juga sudah mulai marak.

Saya tidak mengerti di mana masalahnya, apakah di managemen lokal atau memang kebijakan global mereka. Tapi sepertinya kecenderungan gejala menurunnya kualitas layanan merk global bila masuk ke pasar Indonesia sudah mulai dialami oleh Air Asia.

Anonymous said...

kuncinya lagi-lagi dalam inovasi...

Anonymous said...

Bukankah naik Air Asia seperti naik bus? Anda mesti rebutan tempat duduk? Saya ngga berani mengkomplain tentunya. Soalnya tiketnya memang jauh lebih murah

Dino said...

If you are small, dont be afraid
Bagus nih kata-katanya..

Sapi Lucu said...
This comment has been removed by the author.