
Seperti dimuat detikcom disini dan disini, Tung Desem Waringin sekali lagi akan menggelar aksi sensasional dalam rangka promo buku tulisannya. Kali ini dia akan menggelar aksi tebar uang 100 juta di Parkir Timur Senayan pada hari Minggu 1 Juni 2008. Tung akan menyebar uang itu dari pesawat Jabiru pada ketinggian 200 m.
Tentu aksi itu mengundang pro kontra dari sisi sosial, tapi itu adalah ide yang cukup unik dalam rangka mengenalkan produknya, serta berpotensi besar menciptakan buzz word. Dengan asumsi daripada budgetnya digunakan untuk bikin acara mewah, atau pasang billboard, maka ide Tung itu cukup bisa menghadirkan perbincangan di banyak orang.
Namun, ada masalah lain, apakah ide itu cukup bisa membantu penjualan bukunya ? Itulah pekerjaan rumahnya, menciptakan hubungan antara event dengan tujuan diadakannya event itu.
What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono ( andri )
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Tung Desem Waringin Nyebar Duit
Thursday, May 29, 2008
Posted by
andri
at
3:13 PM
13
comments
Branding from Zero (bagian 1)
Monday, May 19, 2008
Branding adalah isu yang menjadi pembicaraan menarik seputar dunia marketing. Beberapa kali blog ini membahas tema itu, tapi kali ini kita coba mengenal branding dari awal.
Kalau menurut Vincent Grimaldi Branding is the blend of art and science that manages associations between a brand and memories in the mind of the brand's audience. It involves focusing resources on selected tangible and intangible attributes to differentiate the brand in an attractive, meaningful and compelling way for the targeted audience.
Jadi, branding bisa dilihat sebagai upaya menciptakan asosiasi antara brand dengan memori dari brand's audience (baca: calon konsumen), sehingga diperlukan upaya memfokuskan sumberdaya untuk menciptakan diferensiasi brand bagi target audiencenya.
Dengan upaya branding itu, maka brand akan memiliki elemen-elemen sebagai cara orang untuk melihat, mengingat, dan menghubungkan/mengasosiasikan sesuatu dengan brand kita. Melihat dan mengingat bisa didapatkan orang dari brand name, logo, dan tagline. Namun membuat target audience mampu mengasosiasikan brand kita dengan sesuatu memerlukan lebih dari sekedar nama, logo, dan tagline.
Untuk mempermudah memetakan beberapa hal penting dalam brand, maka Arlene Teck memberikan beberapa hal yang mudah untuk diingat:
Sekarang bagaimana memulai membangun sebuah brand ? Bagaimana sebaiknya memberi nama perusahaan dalam hubungannya dengan product brand ? Itu akan saya jelaskan dalam bagian kedua dari tulisan ini. Tunggu saja tulisan saya berikutnya
posted by Andrias Ekoyuono ( andri)
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Posted by
andri
at
9:47 AM
3
comments
SMS Rp.1 per karakter
Thursday, May 15, 2008
Hari ini Esia melaunching tarif baru SMS mereka, yaitu menjadi Rp.1/karakter. Jadi harga SMS tergantung dari jumlah karakter SMS yang dikirim.
Di satu sisi, hal ini memang mencerminkan usaha Esia untuk berimprovisasi dalam perang tarif, seperti upaya sebelumnya dengan memperkenalkan istilah "TalkTime" untuk menggantikan pulsa bicara.
Tapi di sisi lain, hal ini adalah sekedar perang tarif yang lain. Lihat saja betapa merepotkannya menghitung tarif SMS per karakter. XL bahkan sejak lama telah punya tarif SMS gratis via Xtranya, ataupun Indosat M3 telah punya tarif SMS yang murah lewat paket tertentu, belum lagi kalau dihitung tarif-tarif SMS murah dari para operator baru, meskipun itu hanyalah tarif promosi. Tinggal dihitung aja berapa banyak karakter SMS yang rata-rata dikirim, kemana saja SMS itu dikirim (antar operator atau se operator), kemudian pilih skema tarif yang paling menguntungkan :-D .
Nampaknya mulai sekarang diperlukan konsultan, bukan hanya untuk tarif bicara, tapi juga untuk tarif SMS :-)
posted by Andrias Ekoyuono ( andri ) for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
5:24 PM
8
comments
Inspirasi : Mac Book Air vs Lenovo ThinkPad x300
Friday, May 02, 2008
Diatas adalah iklan dari MacBook Air. Seperti kita ketahui, MacBook Air ini mendapat tantangan dari Lenovo Think Pad x300. Namun yang seru adalah bagaimana para pecinta dua produk ini juga "berperang". Seperti yang terlihat pada video kiriman "pendukung" Lenovo di YouTube yang tertayang pada video berikut ini.
Welcome to customers era ! Dimana semua orang bisa berbuat apa saja untuk mendukung brand/produk yang mereka cintai.
posted by Andrias Ekoyuono ( andri )
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
Posted by
andri
at
2:07 PM
5
comments
Supermi GoKar , dan Peperanganpun Terus Berlanjut
Monday, April 28, 2008
Mie Instan adalah salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Pangsa pasar untuk mie instan ini dipimpin oleh Indofood dengan brand Indomie, Supermi, Sarimi, dan Pop Mie. Namun Mie Sedaap dari WingFood telah mampu membuat Indofood bergerak lebih cepat dalam berkomunikasi dan berinovasi. Salah satunya dengan hadirnya Supermi GoKar. Apa tuh ?
Supermi GoKar singkatan dari Goreng Kari, adalah salahsatu dari 3 varian baru Supermi. Dua yang lain adalah Supermi GoSo (Goreng Soto) dan Supermi GoBang (Goreng Ayam Bawang). Saya sendiri telah menemukan varian tersebut tersedia di salah satu jaringan hypermarket. Memang komunikasi atau iklan dari 3 varian Supermi itu belum terlihat, namun itu adalah hal yang wajar di era sekarang. Distribusi didahulukan, baru kemudian komunikasi gencar dilakukan via iklan. Tujuannya adalah agar masyarakat yang tertarik dengan iklannya, lalu tertarik untuk mencoba, kemudian dapat menemukannya di toko-toko.
Anyway, kompetisi memang selalu menyajikan inovasi-inovasi menarik serta memberikan keuntungan buat konsumen.
Sudah ada ada yang mencoba 3 varian Supermi yang baru ? Mie instant apa favorit anda ?
posted by Andrias Ekoyuono (andri)
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Posted by
andri
at
9:47 AM
9
comments
Tarif Bicara Turun, Content Dituntut Makin Kreatif
Sunday, April 20, 2008
Baru-baru ini, salah satu penyedia content dan XL meluncurkan salah satu content terbaru yang menarik, yaitu novel terbaru dari Dewi "Dee" Lestari yang berjudul "Perahu Kertas"(yang prosesnya diceritakan di blog ini) . Novel ini dalam 6 bulan hanya akan diedarkan secara eksklusif melalui jaringan 3G XL, dengan cara mendownload langsung via wap XL Pembayarannya dapat dilakukan dengan basis langganan (mingguan) ataupun per bab dengan langsung dipotong dari pulsa pembelinya. Itu adalah salah satu kreatifitas penyedia content dalam menyikapi persaingan yang makin ketat dalam bisnis layanan penyedia content, apalagi di tengah turunnya tarif percakapan seluler. Kenapa turunnya tarif percakapan berpengaruh pada kreatifitas penyedia content ?
Pada dasarnya, semua penyedia content memperebutkan share of wallet dari konsumen seluler, artinya kue yang coba ikut dimakan adalah bagian dari Revenue Per User (baca: jumlah rupiah yang dibelanjakan pelanggan untuk membeli pulsa) tiap bulan. Dengan turunnya tarif percakapan seluler, maka pelanggan seluler akan cenderung menghabiskan lebih banyak uang (baca:pulsanya) untuk berbicara. Karena pelanggan merasakan mendapatkan value for money dengan tarif murah itu, maka pelanggan tidak sayang untuk menelpon, sehingga pada akhirnya total jumlah uang yang dibelanjakan untuk berbicara tiap bulan cenderung naik.
Namun kenaikan pembelanjaan uang untuk bicara secara signifikan itu -menurut pengamatan saya- cenderung tidak diikuti oleh kenaikan total pembelanjaan pulsa tiap bulan yang cukup sebanding dengan kenaikan belanja uang untuk bicara. Sehingga pelanggan tentu mengurangi aktifitas lain selain bicara seperti SMS dan berbagai layanan Value Added Service yang disediakan oleh penyedia content seperti SMS premium, download game, dll. Jadi kenaikan aktifitas bicara menyebabkan persentase bicara naik dalam share of wallet dari pelanggan, sementara layanan lainpun akhirnya turun share of walletnya.
Disinilah penyedia content dituntut untuk makin kreatif dalam menyajikan content-content seperti ringbacktone masih akan mampu menarik pelanggan untuk "merelakan" pulsanya karena ada unsur lifestyle dan ekspresi diri pelanggan disitu. Sementara itu, eksklusifitas penyebaran novel digital "Perahu Kertas" dari Dewi "Dee" Lestari -yang sebelumnya sukses dengan novel "Supernova"- adalah salah satu strategi tepat, karena bila novel digital itu dilaunching bersamaan dengan versi cetaknya, maka hasilnya tentu kurang maksimal.
Ada pendapat tentang content apa lagi yang masih dan bakal menarik, dan content apa yang bakal kurang menarik bagi pelanggan ?
Posted by: Andrias Ekoyuono (andri)
or Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture is taken from here
Posted by
andri
at
1:23 PM
13
comments
Unilever pun Pernah Gagal
Monday, April 14, 2008
Unilever Indonesia adalah perusahaan yang dikenal luas sebagai perusahaan yang mampu "melahirkan dan membesarkan" berbagai brand yang akhirnya menjadi salah satu pemimpin pasar. Selain itu, Unilever Indonesia juga sukses mengakuisisi dan memperbesar brand-brand lokal. Tak perlu lagi dikisahkan kisah sukses Unilever Indonesia membesut Lux, Blue Band, Pepsodent, Lifebuoy, Dove, Pond's, Royco, Sariwangi, Taro hingga Bango. Namun Unilever pun pernah gagal.
Salah satu brand besutan Unilever yang gagal adalah Tara Nasiku. Produk nasi instan ini diluncurkan dengan harapan mampu menjadi makanan instan pengganti makanan pokok seperti halnya sukses mie instan. Logikanya cukup masuk akal, nasi adalah makanan pokok sebagian besar orang Indonesia, bila ada nasi instan maka akan besar kemungkinan produknya akan diserap dengan baik oleh pasar. Maka Tara Nasiku pun diluncurkan dengan didukung marketing communication yang luar biasa besar. Tapi produk itu gagal. Awalnya banyak orang mencoba Tara Nasiku, namun itu rupanya hanya first trial semata. Kelemahan Tara Nasiku yang mencolok adalah untuk menghasilkan nasi instan yang optimal, maka mesti dimasak dengan Teflon, hal inilah yang cukup menyulitkan konsumennya. Selain itu, rasa Tara Nasiku kurang berkenan di lidah kita (ataukah karena cara masaknya yang tidak benar ya ?). Pada intinya, ekspektasi akan rasa dan "instan" dari iklan Tara Nasiku ternyata tidak dipenuhi.
Ada lagi produk Unilever lain yang gagal, Mie&Me. Mie&Me yang diluncurkan sebagai Mie Instan yang lebih bertarget market anak muda, ternyata langsung disambut oleh sang pemimpin pasar Indofood dengan Chatz Mie. Kentara sekali Chatz Mie -yang diposisikan sebagai fighting brand- sangat mengganggu Mie&Me. Chatz Mie pun dikomunikasikan mirip dengan Mie&Me, sehingga konsumen dibuat susah membedakan antara keduanya. Belum lagi kekuatan distribusi Indofood yang susah digoyah oleh Unilever. Akhirnya Mie&Me pun tumbang, dan Chatz Mie pun segera dimatikan oleh Indofood.
Tapi Unilever bisa belajar dari kegagalan-kegagalan itu. Bisa dilihat bila saat ini Unilever cenderung mengakuisisi brand-brand lokal (Sariwangi, Taro, Bango, Buavita, dll) bagi bisnis makanan dan minumannya, karena brand yang sudah punya nama memiliki resiko lebih kecil. Tinggal pinter-pinternya Unilever membesarkan brand-brand itu.
What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here
Posted by
andri
at
7:20 PM
7
comments