Unilever pun Pernah Gagal

Monday, April 14, 2008


Unilever Indonesia adalah perusahaan yang dikenal luas sebagai perusahaan yang mampu "melahirkan dan membesarkan" berbagai brand yang akhirnya menjadi salah satu pemimpin pasar. Selain itu, Unilever Indonesia juga sukses mengakuisisi dan memperbesar brand-brand lokal. Tak perlu lagi dikisahkan kisah sukses Unilever Indonesia membesut Lux, Blue Band, Pepsodent, Lifebuoy, Dove, Pond's, Royco, Sariwangi, Taro hingga Bango. Namun Unilever pun pernah gagal.


Salah satu brand besutan Unilever yang gagal adalah Tara Nasiku. Produk nasi instan ini diluncurkan dengan harapan mampu menjadi makanan instan pengganti makanan pokok seperti halnya sukses mie instan. Logikanya cukup masuk akal, nasi adalah makanan pokok sebagian besar orang Indonesia, bila ada nasi instan maka akan besar kemungkinan produknya akan diserap dengan baik oleh pasar. Maka Tara Nasiku pun diluncurkan dengan didukung marketing communication yang luar biasa besar. Tapi produk itu gagal. Awalnya banyak orang mencoba Tara Nasiku, namun itu rupanya hanya first trial semata. Kelemahan Tara Nasiku yang mencolok adalah untuk menghasilkan nasi instan yang optimal, maka mesti dimasak dengan Teflon, hal inilah yang cukup menyulitkan konsumennya. Selain itu, rasa Tara Nasiku kurang berkenan di lidah kita (ataukah karena cara masaknya yang tidak benar ya ?). Pada intinya, ekspektasi akan rasa dan "instan" dari iklan Tara Nasiku ternyata tidak dipenuhi.

Ada lagi produk Unilever lain yang gagal, Mie&Me. Mie&Me yang diluncurkan sebagai Mie Instan yang lebih bertarget market anak muda, ternyata langsung disambut oleh sang pemimpin pasar Indofood dengan Chatz Mie. Kentara sekali Chatz Mie -yang diposisikan sebagai fighting brand- sangat mengganggu Mie&Me. Chatz Mie pun dikomunikasikan mirip dengan Mie&Me, sehingga konsumen dibuat susah membedakan antara keduanya. Belum lagi kekuatan distribusi Indofood yang susah digoyah oleh Unilever. Akhirnya Mie&Me pun tumbang, dan Chatz Mie pun segera dimatikan oleh Indofood.

Tapi Unilever bisa belajar dari kegagalan-kegagalan itu. Bisa dilihat bila saat ini Unilever cenderung mengakuisisi brand-brand lokal (Sariwangi, Taro, Bango, Buavita, dll) bagi bisnis makanan dan minumannya, karena brand yang sudah punya nama memiliki resiko lebih kecil. Tinggal pinter-pinternya Unilever membesarkan brand-brand itu.

What do you think ?

posted by Andrias Ekoyuono
for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here



3 comments:

Hedi said...

mengakuisisi produk lokal yang sudah jaya berarti juga meminimalisir kerugian produk baru yg gagal kali ya :D

iqranegara said...

Kegagalan (yg kecil) itu jadi pembelajaran buat mereka. Dan sekarang Pak Andrias menceritakan kembali sebagai pembelajaran buat kita

statistikawan.org said...

Kegagalam adalah guru yang terbaik :).