Unilever Mengakuisi Local Brand (lagi)

Wednesday, September 26, 2007

Membangun brand dari 0 (nol) tentulah bukan pekerjaan mudah, banyak biaya, tenaga, energi, dan kreatifitas yang mesti dicurahkan untuk mencapai image, reputasi, dan penjualan yang diinginkan. Artinya membangun brand juga memerlukan investasi, dan layaknya sebuah investasi maka perlu waktu untuk mencapai pengembalian investasi.

Salah satu cara untuk memotong proses itu adalah dengan mengakuisisi brand yang sudah ada dan dikenal masyarakat, harapannya adalah perusahaan tidak perlu membangun brand dari awal, sehingga bisa fokus pada peningkatan performa, disribusi dan penjualan. Langkah ini jamak dilakukan oleh berbagai perusahaan di dunia. Proses akuisisi sebuah brand bisa dilakukan dengan hanya membeli brandnya saja - artinya menguasai hak atas kekayaan intelektual, produk, marketing dan sales dari brand tersebut - ataupun membeli brand dan juga pabrik yang memproduksi produknya.

Unilever Indonesia adalah salah satu perusahaan yang beberapa kali mengakuisisi local brand. Setelah sebelumnya mengakuisisi beberapa brand seperti Sariwangi, Citra, Bango, hingga Taro, kini baru saja Unilever Indonesia mengakuisisi brand Buavita dan Gogo dari Ultrajaya. Kali ini Unilever hanya mengakuisisi brandnya saja, sehingga produksi Buavita dan Gogo masih akan dilakukan di pabrik UltraJaya.

Nampaknya keberhasilan Unilever dalam meningkatkan performa brand-brand yang sebelumnya dibeli sehingga memberikan kontribusi positif bagi Unilever Indonesia menjadi alasan bagi Unilever untuk kembali mengakuisisi brand-brand lain. Selain itu, juice adalah minuman sehat yang memiliki prospek yang cerah di pasaran seiring dengan meningkatnya gaya hidup sehat serta meluasnya modern channel sebagai saluran disribusi ideal, maka pilihan untuk mengakuisisi Buavita dan Gogo (terutama Buavita) adalah pilihan logis bagi Unilever dalam menguasai pangsa pasar juice di Indonesia.

What do you think ?

posted by : Andrias Ekoyuono ( andri )
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Bagaimana Memilih Waralaba ( Franchise )

Tuesday, September 18, 2007

Salah satu cara dalam memulai bisnis adalah dengan menjadi franchisee (penerima waralaba), yaitu mengambil hak waralaba ( franchise) dari pemberi waralaba ( franchisor ). Misalnya menjadi franchisee dari Kebab Turki Babarafi, Primagama, atau Alfamart. Franchise bisa diambil dari franchisor dalam negeri maupun luar negeri. Menjadi franchisee adalah salah satu cara yang dianggap praktis dalam memulai bisnis ataupun berinvestasi.

Namun menurut saya, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh seorang calon franchisee dalam memilih franchise guna meminimalisasikan resiko bisnis.

1. Known Brand is Preferable

Keuntungan utama dengan menjadi franchisee adalah kita tidak perlu membangun sendiri image dan reputasi dari brand, karena membangun brand agar diterima konsumen memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Berkaitan dengan itu, maka menjadi franchisee dari brand yang sudah dikenal masyarakat adalah pilihan ideal, karena brand itu sudah memiliki persepsi di calon konsumen dan menjadi semacam "jaminan" bagi datangnya konsumen ke gerai kita. Tentu konsekuensinya adalah semakin terkenal brandnya maka biaya awal dan biaya royalti yang diminta oleh franchisor biasanya makin besar. Namun saya rasa sangat masuk akal bila kita berharap tidak perlu susah payah ikut membangun brand dari hampir 0 ketika kita menjadi franchisee.

2. Clear System

Semua sistem yang mendukung operasional maupun pembagian hasil dari franchise tersebut harus jelas. Mulai dari sistem pembagian area franchisee, sistem Supply Chain, sistem training, promosi, sistem konsultasi hingga sistem administrasi/finance haruslah jelas. Kemudian amatilah apakah ada potensi kegagalan maupun keruwetan sistem yang akan memicu kerancuan operasional. Diskusikan semua sistem secara terbuka dengan franchisor, jangan sampai kita dibuat terkaget-kaget di tengah jalan dengan sistem yang tidak kita pahami dari awal.

3. Proven Track Record

Jangan hanya terbuai oleh brosur dari franchisor. Lakukan riset di lapangan terhadap franchisee-franchisee yang telah terlebih dahulu mengambil franchise itu, apakah memang mereka benar-benar menikmati keuntungan dan kemudahan, dan apakah ada kendala yang membuat mereka kecewa. Atau cara lain adalah dengan melakukan pengamatan lapangan terhadap operasional para franchisee tersebut.

4. Research

Lakukan riset sendiri tentang kaitan antara potensi bisnis dan calon lokasi yang hendak pilih. Juga tentang berbagai kendala yang kemungkinan menghadang di lapangan. Biasanya pihak franchisor sudah menyediakan pilihan lokasi atau riset potensi pasar di wilayah tertentu, namun alangkah baiknya bila kita sendiri juga melakukan riset sehingga kita benar-benar tahu keadaan di calon lokasi yang hendak kita pilih.

5. Be careful with Franchisor's Personal Brand

Kadang ada brand franchise yang sangat tergantung pada personal brand dari pemilik brand franchise tersebut. Hal ini di satu sisi bisa menguntungkan apabila memang personal brand dari sang pemilik sedang dipersepsikan positif oleh masyarakat. Namun tentu rekan-rekan masih ingat tentang sebuah restoran yang pemiliknya sangat dikenal karena kampanye poligami. Di satu sisi hal itu sangat mengangkat nama restoran tersebut, namun ketika terjadi over-exposed tentang poligami sang pemilik, dan terkesan terjadi over-used maupun over-campaign terhadap kegiatan poligami itu, maka muncul juga persepsi negatif dari sebagian masyarakat, terutama sebagian ibu-ibu. Akhirnya restoran-restoran dari para franchisee juga ikut terkena imbasnya dengan penurunan jumlah konsumen, bahkan ada yang sudah ditutup. Saran saya, lebih baik menghindari franchise yang sangat melekat dengan personal brand pemilik brand franchise. Sehingga menghindari resiko ikut terseret fluktuasi dari personal brand pemilik brand.

6. Hard Work is Just Started !

Last but not least, setelah mengambil franchise bukan berarti kita tinggal duduk manis dan menikmati mesin uang yang bekerja buat kita. Kerja keras, analisis, adaptasi dan improvisasi terus menerus tetap diperlukan. Implementasi berbagai strategi dan taktik harus selalu dikomunikasikan dengan franchisor agar implementasi tersebut tidak melanggar sistem, dan bahkan masukan franchisee juga amat dibutuhkan oleh franchisor dalam rangka memperbaiki sistemnya.


What do you think ?

posted by : andrias ekoyuono ( andri )
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Brand Crisis Management

Wednesday, August 29, 2007

Hal yang paling ditakuti oleh pemilik brand adalah rusaknya image dan reputasi dari brand yang telah dibangun bertahun-tahun. Rusaknya image atau reputasi bisa mengakibatkan produk-produk menurun penjualannya, bahkan bisa ditolak oleh masyarakat. Rusaknya brand bisa diakibatkan oleh hal internal seperti menurunnya kualitas produk, ataupun hal eksternal seperti kecelakaan (seperti pada penerbangan) ataupun isu-isu negatif yang beredar seputar brand.

Di era informasi seperti ini, mudah sekali isu negatif menyebar melalui berbagai media seperti koran, televisi, media online, dan email. Pembaca tentu sering sekali menerima informasi dan atau hoax yang mengalir dari email ke email, dan email seperti itu biasanya langsung diforward ke rekan-rekan yang lain, itulah salah satu contoh begitu mudah dan cepatnya isu negatif membuat sebuah brand terjebak dalam krisis.


Nah bagaimana pengelola brand mengangani isu negatif itu ?

Tentu saja pencegahan yang paling mendasar adalah mulai dari internal perusahaan, yaitu memastikan bahwa semua produk yang dijual sesuai dengan segala peraturan yang berlaku, termasuk memastikan bahwa kualitas yang diberikan kepada konsumen adalah sesuai dengan janji yang telah diberikan.


Kemudian apabila isu negatif sudah menerpa, maka yang paling penting adalah kecepatan dalam menanggapi isu tersebut dengan memberikan keterangan yang benar, tepat, dan media yang sesuai. Kemudian juga perlu diajak tokoh/pihak yang berkompeten yang memberikan pernyataan untuk memberikan tambahan penjelasan. Kenapa kecepatan saya cetak tebal ? Karena itu adalah faktor yang penting sekali dalam mencegah kerusakan brand lebih lanjut. Kita bisa belajar dari kasus isu formalin di Pepsodent dan beberapa produk Unilever baru-baru ini.

Seperti kita ketahui, Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) mengumumkan beberapa produk Unilever mengandung formalin. Maka Unilever dengan cepat memberikan tanggapan dengan detail tentang isu tersebut lewat berbagai media seperti detikcom (
disini dan disini) , media cetak, juga di situs resmi mereka. Tanggapan dari Unilever itu saya amati juga dicover oleh lebih banyak media dibandingkan ketika berita itu dilemparkan oleh LKJ. Selain itu ada juga tanggapan dari BPOM yang mendukung pernyataan Unilever bahwa produk-produk mereka aman. Karena cepatnya tanggapan itulah maka isu formalin -sampai saat ini- tidak berkembang menjadi bola salju yang menghantam penjualan Pepsodent, Clear, Lifebuoy, maupun Sunsilk. Bahkan mungkin sebagian besar dari kita belum sempat "ngeh" akan adanya isu formalin tersebut. Selain itu terlihat ada upaya dari Unilever untuk memberikan penjelasan yang jujur dan terbuka tanpa menutup-nutupi bahwa Pepsodent dan produknya yang lain mengandung formaldehyde namun masih jauh dibawah ambang batas yang diperbolehkan.

Hal yang berbeda terjadi ketika krisis akibat kandungan bahan pengawet di dalam Mizone (yang sebenarnya juga masih dalam batas aman BPOM). Disitu terjadi keterlambatan penanganan isu sehingga terjadi penurunan penjualan Mizone yang sangat drastis. Akibatnya diperlukan waktu hampir setahun untuk melakukan recovery, itupun dengan biaya sangat besar untuk memberikan penjelasan melalui berbagai iklan di media.


What do you think ?
posted by Andrias Ekoyuono (andri)
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Mau Dibawa Kemana Personal Brand Roy Suryo ?

Thursday, August 09, 2007

Roy Suryo, sebuah nama yang selalu menjadi kontroversi. Akhir-akhir ini kembali jadi bahan berita karena "penemuan" lagu Indonesia Raya versi 3 stanza, sehingga menuai berbagai tanggapan dari berbagai pihak termasuk wakil presiden, anggota, DPR, lembaga arsip nasional, hingga para seleb blogger seperti ndorokakung dan priyadi.

Dari sisi marketing, terutama personal branding, saya analisa ada beberapa positioning dari Roy Suryo di masyarakat. Di kalangan masyarakat umum mungkin dia terkenal sebagai "Pakar Telematika", "Pakar Multimedia" atau "Pakar IT". Di kalangan selebritis dan infotainment mungkin dia dikenal sebagai "Pakar Pembeda Foto Asli atau Rekayasa". Beda pula positioning Roy Suryo di mata penggiat dunia IT ataupun di kalangan blogger. Personal branding seperti ini sepertinya kurang sesuai dengan tulisan saya sebelumnya tentang Personal Branding.

Menurut rekan-rekan, apakah positioning Roy Suryo di mata anda ?

Btw, ada yang tertarik menemukan lagu "Kucing Garong" versi 3 stanza ?

posted by Andrias Ekoyuono ( andri ) picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

One of The Most Successful Rebranding in Indonesia : Inneke Koesherawati

Thursday, July 19, 2007

Suatu ketika, sebuah merk perlu melakukan rebranding untuk menciptakan positioning baru di mata konsumen atau masyarakat. Menurut wikipedia

Rebranding is the process by which a product or service developed with one brand or company or product line affiliation is marketed or distributed with a different identity. This involves radical changes to the brand's logo, brand name, image, marketing strategy, and advertising themes. It usually results in the repositioning of the brand / company.
Nah salah satu brand di Indonesia yang sukses luar biasa dalam melakukan rebranding adalah Inneke Koesherawati. Ya personal brand dari Inneke Koesherawati sukses melakukan repositioning 180 derajat. Dahulu kita mengenal Inneke lewat peran-peran di film panas seperti gadis metropolis, sehingga masyarakat mempersepsikan Inneke sebagai bintang panas lengkap dengan segala atribut keseksian yang melekat padanya.

Namun saat ini Inneke adalah icon wanita muslimah yang sukses, mengenakan jilbab, memandu acara-acara wanita dan juga muslim di TV, menjadi bintang iklan produk-produk seperti Sunsilk Mist dan kosmetik Wardah tetap dengan jilbabnya, serta memiliki suami dan keluarga yang harmonis serta kental nuansa religiusnya.
Tentu bukan hal yang mudah untuk merubah persepsi terhadap brand. Seringkali rebranding gagal di tengah jalan, ataupun tidak mencapai hasil yang diinginkan. Belajar dari keberhasilan Inneke, kita bisa mengambil beberapa point penting untuk meningkatkan keberhasilan rebranding. Tentu saya disini mengambil sudut pandang seorang marketer, jadi saya tidak mengambil sudut pandang lainnya.

1. Brand it by your heart
Perubahan yang dilakukan harus diawali dari internal, dalam studi kasus Inneke maka dimulai dari niat dan kesungguhan diri sendiri untuk melakukan rebranding. Kalau hal itu dikaitkan dengan perusahaan, maka semua karyawan harus mengerti memahami dan melakukan rebranding dengan kesungguhan hati. Rebranding bukan sekedar ganti logo atau ganti atribut fisik, dalam studi kasus Inneke maka rebranding bukan sekedar memakai atribut muslimah, tapi benar-benar diawali dari hati dan midset serta diwujudkan dalam perbuatan.

2. Brand it consistently
Dengan atribut dan logo baru, maka brand harus terus konsisten dalam mempertahankan segala aktifitas dan atributnya sesuai dengan positioning baru. Hal ini akan membuat konsumen percaya akan perubahan yang telah terjadi, sehingga cepat atau lambat akan merubah perspesi masyarakat dan makin menepis keraguan. Seperti Inneke yang secara konsisten tetap berusaha berbuat sebagaimana dilakukan oleh seorang muslimah yang baik meskipun awalnya banyak orang yang ragu, namun karena dia konsisten maka keraguan orang pun akan hilang.

3. Get all the support that you can get
Bila yang dilakukan rebranding adalah brand sebuah produk dari sebuah corporate, maka harus dipastikan bahwa proses rebranding tersebut didukung penuh oleh corporate dan juga sesuai dengan brand mapping dari brand-brand dari perusahaan itu sehingga meminimalkan kanibalisme yang tidak diinginkan ataupun konflik di masa depan. Dalam kasus Inneke, Inneke didukung penuh oleh corporatenya dalam hal ini adalah keluarga dan suaminya, sehingga tidak ada tentangan terhadap positioning baru tersebut dari keluarganya, bahkan positioning baru dari Inneke sangat klop dengan keluarga mertuanya.

Dari uraian saya diatas, memang dapat ditarik kesimpulan bahwa kitapun bisa belajar rebranding dari personal brand seperti Inneke Koesherawati.

posted by andrias ekoyuono ( andri )
picture taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...

Ini Dia Marlboro Mix 9 Kretek Filter

Thursday, July 12, 2007

Baliho-baliho sudah bertebaran di jalanan untuk memperkenalkan Marlboro Mix 9, rokok kretek filter (Sigaret Kretek Mesin / SKM Full Flavoured) yang diluncurkan oleh PT. HM. Sampoerna, Tbk (yang sekarang dimiliki oleh Phillip Morris) untuk meramaikan persaingan kategori SKM Full Flavoured yang dikuasai oleh Djarum dengan Djarum Super-nya dan Gudang Garam dengan Gudang Garam Filter dan Gudang Garam Surya.

Disini bisa melihat foto kemasan Marlboro Mix 9. Kemasannya overall memang bercirikan Marlboro, dengan perbedaan di warnanya yang didominasi warna gold/ emas yang glossy, sementara Marlboro yang lain biasanya didominasi warna putih. Terima kasih kepada pak Angky Camaro ( Managing Director - Indonesian Cigarette Business - PT. HM Sampoerna , Tbk. ) yang berkenan mengirim sampelnya ke saya.
Kita tunggu saja ketersediaan produknya di pasar setelah grand launching.

What do you think ?


posted by : Andrias Ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Iklan Kopiko 3 in 1 di Thailand

Monday, July 09, 2007



taken from here

Baca artikel ini selengkapnya ...