One of The Most Successful Rebranding in Indonesia : Inneke Koesherawati

Thursday, July 19, 2007

Suatu ketika, sebuah merk perlu melakukan rebranding untuk menciptakan positioning baru di mata konsumen atau masyarakat. Menurut wikipedia

Rebranding is the process by which a product or service developed with one brand or company or product line affiliation is marketed or distributed with a different identity. This involves radical changes to the brand's logo, brand name, image, marketing strategy, and advertising themes. It usually results in the repositioning of the brand / company.
Nah salah satu brand di Indonesia yang sukses luar biasa dalam melakukan rebranding adalah Inneke Koesherawati. Ya personal brand dari Inneke Koesherawati sukses melakukan repositioning 180 derajat. Dahulu kita mengenal Inneke lewat peran-peran di film panas seperti gadis metropolis, sehingga masyarakat mempersepsikan Inneke sebagai bintang panas lengkap dengan segala atribut keseksian yang melekat padanya.

Namun saat ini Inneke adalah icon wanita muslimah yang sukses, mengenakan jilbab, memandu acara-acara wanita dan juga muslim di TV, menjadi bintang iklan produk-produk seperti Sunsilk Mist dan kosmetik Wardah tetap dengan jilbabnya, serta memiliki suami dan keluarga yang harmonis serta kental nuansa religiusnya.
Tentu bukan hal yang mudah untuk merubah persepsi terhadap brand. Seringkali rebranding gagal di tengah jalan, ataupun tidak mencapai hasil yang diinginkan. Belajar dari keberhasilan Inneke, kita bisa mengambil beberapa point penting untuk meningkatkan keberhasilan rebranding. Tentu saya disini mengambil sudut pandang seorang marketer, jadi saya tidak mengambil sudut pandang lainnya.

1. Brand it by your heart
Perubahan yang dilakukan harus diawali dari internal, dalam studi kasus Inneke maka dimulai dari niat dan kesungguhan diri sendiri untuk melakukan rebranding. Kalau hal itu dikaitkan dengan perusahaan, maka semua karyawan harus mengerti memahami dan melakukan rebranding dengan kesungguhan hati. Rebranding bukan sekedar ganti logo atau ganti atribut fisik, dalam studi kasus Inneke maka rebranding bukan sekedar memakai atribut muslimah, tapi benar-benar diawali dari hati dan midset serta diwujudkan dalam perbuatan.

2. Brand it consistently
Dengan atribut dan logo baru, maka brand harus terus konsisten dalam mempertahankan segala aktifitas dan atributnya sesuai dengan positioning baru. Hal ini akan membuat konsumen percaya akan perubahan yang telah terjadi, sehingga cepat atau lambat akan merubah perspesi masyarakat dan makin menepis keraguan. Seperti Inneke yang secara konsisten tetap berusaha berbuat sebagaimana dilakukan oleh seorang muslimah yang baik meskipun awalnya banyak orang yang ragu, namun karena dia konsisten maka keraguan orang pun akan hilang.

3. Get all the support that you can get
Bila yang dilakukan rebranding adalah brand sebuah produk dari sebuah corporate, maka harus dipastikan bahwa proses rebranding tersebut didukung penuh oleh corporate dan juga sesuai dengan brand mapping dari brand-brand dari perusahaan itu sehingga meminimalkan kanibalisme yang tidak diinginkan ataupun konflik di masa depan. Dalam kasus Inneke, Inneke didukung penuh oleh corporatenya dalam hal ini adalah keluarga dan suaminya, sehingga tidak ada tentangan terhadap positioning baru tersebut dari keluarganya, bahkan positioning baru dari Inneke sangat klop dengan keluarga mertuanya.

Dari uraian saya diatas, memang dapat ditarik kesimpulan bahwa kitapun bisa belajar rebranding dari personal brand seperti Inneke Koesherawati.

posted by andrias ekoyuono ( andri )
picture taken from here

14 comments:

Luthfi said...

gag pake dana?

venus said...

lhoh, orang juga bisa branding? baru tau, saya :D

Anang said...

branding apanya rebonding? hehe

edratna said...

Hmm memang betul, semua harus dimulai dengan hati, niat, dan konsisten.

Inneke berhasil memadukan konsep positioning, diferensiasi dan branding.Jadi orang sudah kenal siapa Inneke, positioningnya dimana, apa yang membedakan dengan orang lain...dan branding nya apa (sebagai artis yang muslimah).

andri said...

#luthfi
besarnya dana tergantung strategi yang dipilih, pada prinsipnya semua bisa diatur :-)

#venus
iya, makanya ada personal branding mbok

#anang
keriting bos. hahahaha

#edratna
betul bu, semoga dia tetep konsisten

Nofie Iman said...

Dalam beberapa hal mungkin Inneke masih kalah dengan orang yang memang sedari awal mencitrakan dirinya sebagai artis yang muslimah.

Betapapun, ada sebagian yang melihat masa lalu Inneke sebagai poin negatif. Teman saya yang berpendapat bahwa tak mungkin orang bisa berubah 180 derajat seperti halnya Inneke. Ia lebih suka dengan artis yang memang "lurus" sedari awalnya. Yah, selera orang memang beda-beda.

Anyway, tulisan yang bagus.

mel@ said...

sempet terpengaruh juga siii... pas ada iklan shampo pake inneke... hmmm... ketauan banget niii... iklannya lumayan berhasil juga buat aku...
padahhhaaal... tetep aja ga beda ama yang lain... :d

catur pw said...

Hehe.. cocok, memang sempet nempel brand inneke sebagai "HOT Movie Star" image dibenak saya, tapi seiring waktu dengan keteguhan hati dan konsisten dari hari ke hari inneke mampu membawa perubahan brand image "Successfull Muslimah Business Woman" bagi saya.

Memang, "negative brand image can be very difficult to shake off" tapi untuk kasus brand image Inneke Koesherawati, dia sudah mampu memperbaikinya dengan sangat sempurna. ;)

IMHO

Yasha Chatab said...

menurut saya Personal Branding utk artis itu susah susah gampang.

In my opinion, masyarakat Indonesia itu sangat pemaaf, apalagi pada artis. "Namanya juga artis" mungkin adalah kalimat pemakluman yg mungkin diucapkan.

Selama sang artis kooperatif dgn media infotainment dan membeberkan semuanya dari A sampai Z, pada akhirnya masyarakat akan maklum.

Untuk Inneke dimana positioning berubah dari 'naughty girl' ke religious woman, ada faktor lain lagi: the BORN AGAIN factor.

Kisah Inneke yg menjelma menjadi 'saint' adalah suatu Case Study yg sangat baik bagi seluruh umat (in any religion).

Mungkin ada contoh lain?

Sepengetahuan saya, Ade Rai dan Ade Rai sedang bekerjasama dgn satu perusahaan utk memperkuat brand masing2.

Artis yg juga sangat sadar brand adalah violis Maylaffayza.

andri said...

#yasha chatab
Ade Rai dan Maylaf juga contoh artis yang cukup peduli personal brand, meskipun mungkin tidak melewati proses rebranding seekstrem inneke

Yasha said...

Sorry ada koreksi.. maksudnya Ade Rai dan Adrian Maulana.

Untuk yg ekstrim mungkin Inneke telah berhasil, yg juga didukung oleh faktor2 yg telah saya sebutkan tadi.

Repositioning yg sulit adalah bila sang artis positioning nya nanggung seperti bisa dibaca dalam tulisan saya ini:

http://mryasha.multiply.com/journal/item/70/Repositioning_of_Oneng

Yang sering terjadi di dunia entertainment adalah tidak adanya diferensiasi yg jelas antara satu artis dgn yg lain. Semua main sinetron, semua ikutan coba2 nyanyi, semua juga jadi presenter acara. Semua rambutnya lurus panjang, dll.

Yg sulit: menjaga brand nya. To be truthful to their brand, and still make it compelling

-tikabanget- said...

brand it by your heart.
seperti sayahkah? *winkwink*

Riri Satria said...

Menurut saya, kasus Inneke ini sangat menarik, dan terlihat terlalu sederhana jika hanya dipotret dari sisi "re-branding", karena memang ada sesuatu yang lebih dahsyat kelihatannya terjadi, yaitu "re-born".

Saya mendefinisikan "re-born" sebagai suatu transformasi yang dibentuk oleh suatu transformasi nilai spiritual (pada manusia), paradigma (pada korporasi), dan betul-betul mendasar sifatnya.

Jika memang definisi "re-branding" sama dengan di atas, maka saya sih sepakat saja ...

Salam sukses selalu
Riri @ http://www.theconsultant.co.cc

Service Tv said...

Branding perusahaan besar memang bisa memerlukan dana besar dan tentunya dengan pengemabalian profit yangbesar pula,bagaiamana kalau perusahaan kecil..