Co Branding : Kick Andy dan Republik BBM

Friday, May 19, 2006

Semalam tertarik lihat acara talkshow Kick Andy di Metro TV karena liat iklannya yang katanya bintang tamunya adalah Presiden dan Wapres Republik BBM. Dan memang acara semalem menghadirkan para punggawa acara Republik BBM dari Indosiar, lengkap dari Presiden, Wapres, Mensesnegkab, sama Penasehat Presiden dan Produser acaranya.

Saya kira langkah ini adalah langkah Co-branding yang menarik. Setelah sempet diisukan mau dilarang tayang,kemudian sempet diundang oleh Wapres negara "tetangga" Yusuf Kalla yang ternyata tidak keberatan dengan munculnya tontonan alternatif seperti itu, maka popularitas Republik BBM di Indosiar makin tinggi. Kemudian dengan tampilnya di acara Kick Andy, maka Republik BBM juga promo di stasiun TV "tetangga", namun juga tampilnya para punggawa Republik BBM tentu juga mengangkat pamor dan (mungkin) rating acara Kick Andy sendiri.
Sehingga dua acara ini boleh dibilang cukup cerdik melakukan co-branding.

posted by : Andrias Ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Biomucil menantang Vegeta

Tuesday, May 09, 2006

Beberapa kali sempat lihat iklan TV produk baru Biomucil dari Konimex. Benefit yang ditawarkan benar2 mengkesploitasi kelemahan Vegeta yaitu dapat dicampur langsung dengan makanan, cepat larut dan tidak menggumpal. Warnanya juga bukan kuning. Dari iklannya juga terlihat mau langsung head-on dengan Vegeta karena didalam iklan diperlihatkan Biomucil dan satu produk lain yang warnanya kuning.

Kalau liat atribut yang ditawarkan,saya melihat faktor luasan distribusi dan aktifitas BTL seperti sampling diperlukan untuk mendorong kesuksesan dari Biomucil. Orang sudah teredukasi dengan baik oleh Vegeta bahwa seperti Vegetalah bentuk minuman berserat. Juga perlu hati2 dengan masalah rasa, karena kalau rasanya tidak oke maka konsumen cenderung sekedar trial aja.

Any komen ?

posted by Andrias Ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Greenpeace : brand yang sukses

Thursday, April 20, 2006

Greenpeace adalah contoh sukses brand Non Government Organization di dunia. Positioningnya sangat kuat sebagai NGO yang concern terhadap berbagai masalah kerusakan lingkungan di dunia. Para aktivisnya sepertinya sudah begitu menjiwai brand greenpeace sehingga dapat melakukan hal-hal heroik seperti berhari-hari mengejar dan menginvestigasi kapal yang kapal pencuri ikan, ataupun membentangkan spanduk di depan kapal pembawa kayu ilegal. Dan karena aksi2 heroik itulah Greenpeace juga mendapat exposure yang besar dari media sehingga makin memperkuat brand awarenessnya. Hebatnya pula, Green peace mendapatkan funding bukan dari korporasi maupun pemerintah, sehingga bisa diyakini bahwa banyak orang yang sangat percaya akan kekuatan brand Greenpeace dan "produk-produk" dan value yang di tawarkannya sehingga banyak orang bersedia mengucurkan dananya bagi kegiatan Greenpeace.

Apakah brand Greenpeace sudah setingkat dengan brand Harley Davidson ?

posted by : Andrias Ekoyuono ( andri )

photo courtesy of www.greenpeace.org

Baca artikel ini selengkapnya ...

Softex Menggeliat

Monday, April 17, 2006

Softex rupanya benar2 all out untuk fight merebut kembali tahta penguasa sanitary napkins, mengingat brand Softex sempat menjadi brand generik untuk sanitary napkins. Pergerakannya mulai dari pemilihan 3 D'girlz Softex dengan masing2 gadis merupakan representasi karakter target konsumennya (tentu saja inline dengan variannya), bikin basket ke sekolah2, sponsor konser musik, dan juga ADA band dengan lagunya. Mereka bahkan juga buat film bioskop dengan judul "D'girlz begins" dengan bintang 3 D'Girlz Softex.

Langkah Softex memang benar all out, selain salah satu faktornya adalah hadirnya pak Rudolf Tjandra yang bekas orang Sampoerna dan membawa marketing style dari rokok ke Softex, juga adalah faktor willingness dari brand owner untuk mau mengucurkan dana yang ruar biasa besar.Mungkin para ownernya juga sudah sadar bahwa untuk pengguna sanitary napkins yang sudah dewasa memang sulit digeser dari brand kepercayaannya serta Softex sudah cukup kuat awarenessnya di kalangan konsumen dewasa , makanya Softex gempur habis2 an di segmen teen yang diharapkan akan menjadi konsumen loyal. Soalnya di teen sepertinya goyangan Kotex juga cukup kuat,setelah melakukan pemilihan Cwex Kotex,para pemenangnya di 3 kota terus menerus diajak untuk melakukan kegiatan BTL, dengar2 pelan2 market sharenya juga naik. Laurier - sang market leader- sepertinya juga sempat bereaksi dengan bikin semacam pemilihan icon, tapi gaungnya seperti tertelan oleh sepak terjang Softex dan Kotex.

any komen...

posted by : andrias ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Air RahMat : blue Ocean ?

Tuesday, April 04, 2006

Baca berita di detik.com kalo ada produk Air RahMat hasil riset bantuan USAid. Air RahMat ini semacam cairan untuk membunuh bakteri di air sehingga air bisa langsung diminum. Detail tentang spesifikasi air Rahmat bisa dilihat disini. Harganya sekitar 4000 untuk 100 mili liter. Cara pakainya cukup dengan meneteskan 4 tetes ke air 1 liter, dikocok 30 detik, lalu didiamkan 30 menit. Konon kabarnya airnya bisa langsung diminum tanpa dimasak.

Nah, bila bener seperti itu fungsi air RahMat, berarti dia Blue Ocean dong, produk ini kategorinya belum populer untuk dikonsumsi secara massal. bener gak ?

Tapi saya kok masih meraba-raba ya tentang prospek air RahMat ini, terutama dengan distribution channel yang bisa dibangun oleh Air RahMat ini, apakah akan didistribusikan seperti makanan, OTC, atau masuk ke peralatan rumah tangga ? Apakah jadi indirect competitor buat AMDK seperti Aqua dkk ?

The photo is courtesy www.jhuccp.org

posted by : andrias ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Inovasi (Besar) Harus Diluncurkan Berdasarkan Intuisi ?

Monday, March 27, 2006

Riset merupakan instrumen penting yang dilakukan sebelum meluncurkan produk ke pasaran. Riset itu bisa dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) ataupun metode lain yang dilakukan untuk memperkirakan reaksi pasar terhadap produk baru itu. Riset bisa juga dilakukan dengan mensarikan trend yang sedang berkembang di masyarakat saat ini.

Namun ternyata ada beberapa produk sukses besar di pasaran meskipun sebelumnya dianggap bakal gagal oleh sebagian orang karena dianggap tidak mengikuti kaidah trend yang berkembang maupun karena tidak berhasil melewati FGD. Contohnya buku Harry Potter yang sukses besar, meskipun sebelumnya sempat ditolak berbagai penerbit besar karena dianggap tidak sesuai dengan trend. Ataupun contoh yang lain adalah kesuksesan sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang sebelumnya sempat ditolak stasiun TV lain karena dianggap berbeda dibanding pakem sinetron secara umum. Sedangkan produk seperti kursi Aeron yang dianggap tidak bakal sukses menurut tes pasar, namun ternyata bisa sukses besar.

Menurut Malcom Gladwell di buku "Blink", memang orang cenderung "kaget" bila melihat sesuatu yang berbeda, akibatnya riset pasar cenderung merespon negatif untuk inovasi (besar). Berbeda bila inovasi (besar) itu diberikan kepada para pakar yang biasanya akan lebih tepat dan tidak "kaget" dalam menemui inovasi besar, sehingga penilaian dan intuisi dari pakar biasanya akan lebih tajam dalam menilai inovasi.

Akhirnya, bagaimana bila kita hendak meluncurkan produk yang merupakan hasil inovasi besar ? Apakah kita percaya sepenuhnya market research atau berdasarkan intuisi kita ? Nampaknya faktor keberanian pemilik brand/produk akan berperan besar dalam menentukan peluncuran produk tersebut.

posted by : andrias ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...

Avon Cabut Dari Indonesia

Tuesday, February 14, 2006


Setelah sebelumnya menutup produksinya, kosmetik Avon benar2 akan keluar dari Indonesia. Sebelumnya diperkirakan Avon cuma akan menutup pabriknya namun akan tetap memasarkan produk Avon dengan mengambil produknya dari pabrik di Malaysia atau Thailand. Namun ternyata Avon akan benar2 cabut dari Indonesia termasuk dengan tidak akan lagi memasarkan produknya di Indonesia kecuali hanya menghabiskan stock saja, Avon akan menutup semua counter termasuk counter2 franchise mereka.

Apakah kegagalan Avon di Indonesia dikarenakan mereka salah setup 4P ? Kata temen2 yang cewek, produk Avon itu terlalu mahal, tidak sebanding dengan kualitasnya, imagenya untuk kalangan menegah tapi price nya termasuk lumayan mahal. Selain itu Avon seperti mencoba-coba dalam membuat distribution channel, setelah mencoba lewat jalur direct selling, akhir2 ini produk Avon ternyata juga dijual bebas. CMIIW

Apakah ini juga salah satu bukti bahwa sebuah brand tidak boleh serba nanggung dalam positioning ?

any komen pls..

photo courtesy of www.avon.com

posted by : andrias ekoyuono ( andri )

Baca artikel ini selengkapnya ...