Dan Bintangin pun Punya Iklan Baru

Sunday, March 09, 2008

Bintangin sempat mencuri perhatian di saat peluncurannya dengan menantang langsung sang pemimpin pasar - Tolak Angin Sidomuncul - dengan iklan ( TVC ) nya, masih inget kan iklan Bintangin jilid I yang terdiri dari beberapa versi ? Pada intinya, Bintangin ingin mengkomunikasikan tagline "Semua Orang Boleh Minum" dengan eksekusi yang mencoba menohok Tolak Angin Sidomuncul dengan pesan "Gak Harus Pintar Untuk Minum Jamu Tolak Angin" yang jelas-jelas menyerang tagline "Orang Pintar Minum Tolak Angin".

Saat itu, saya sempat berpendapat bahwa iklan Bintangin itu tidak akan cukup ampuh untuk menggoyang Tolak Angin karena beberapa hal. Antara lain, iklannya memang cukup seru untuk dilihat dan dibicarakan, namun apakah akan menjamin orang membeli produknya ? Tunggu dulu. Dengan beriklan seperti itu, justru Bintangin akan membuat orang semakin ingat akan Tolak Angin dan membuat positioning Tolak Angin makin kokoh. Selain itu, konotasi iklan Bintangin memang malah seperti memperkuat kesan Bintangin jamunya orang gak pinter, meskipun maksud sebenarnya bukanlah seperti itu. Bukankah kita lebih suka minum "jamunya orang pinter" daripada "jamunya orang gak pinter (bodoh)" meskipun kita gak pinter-pinter amat ? :-)

Sekarang, Bintangin mengeluarkan iklan terbaru dengan bintang iklan Slank. Iklan kali ini terasa agak berbeda dibanding sebelumnya, bahkan jinglenya bisa didownload disini. Apakah ini karena iklan jilid I tidak berhasil menembus angka penjualan yang diharapkan ? Ataukah memang seperti inilah strategi komunikasi Bintangin sejak awal? Tentu hanya manajemen Bintang Toedjoe yang bisa menjawabnya.

Sebenarnya, Bintangin memiliki beberapa point keunggulan dibanding Tolak Angin. Selain harga yang lebih murah, Bintangin saya rasa memiliki jalur distribusi yang kuat karena dimiliki oleh Bintang Toedjoe (Grup Kalbe) yang sangat kuat dalam distribusi Extra Joss hingga ke pelosok negeri. Jadi banyak potensi yang bisa dipakai untuk mengalahkan Tolak Angin. Tinggal dibenahi strategi komunikasinya, termasuk strategi trade marketing yang mumpuni di level pengecer.

Kita tunggu saja, apakah balasan Bintang Toedjoe terhadap Sidomuncul -yang telah mengusik kenikmatan Extra Joss dalam memimpin pasar dengan Kuku Bima nya- dengan menyerang Tolak Angin lewat Bintangin akan terus berlanjut dan makin seru.



posted by Andrias Ekoyuono ( andri )

for Inspirasi dan Studi Kasus Marketing Indonesia
picture taken from here

14 comments:

venus said...

kalo denger 'kuku bima', saya jadi inget mas iman brotoseno. halaaaahhhh...kumat!! hyahahaha....

btw, maap kemaren linknya salah, tp udah saya benerin kok :D

-tikabanget- said...

huhuhuhu..
yang langsung kepikiran sayah adalah :
"apa iklan itu harus pake orang beken buat bisa eksis?"

tuhu said...

Hmmm smoga bisa sesukses Extrajoss

snydez said...

kemaren mampir ke warung deket kator, punggung koq sakit sakit

pas nanya ada sachetan buat masuk angin?

lalu si mas, mengeluarkan dua kotak, satu bintangin, satu tolak angin,

otomatis saya milih tolak angin, walopun si mas nya bilang, bintangin lebih murah 500 perak :) :P

walopun sebenernya kalo di sodorin satu lagi, antangin, saya lebih milih itu :D

iqranegara said...

Yaa, memang iklan pertama itu bisa jadi bumerang. Kalo perkiraan saya PR Bintangin cepat tanggap. Jadi iklan versi Slank bukan kok sudah direncanakan sejak awal.
Kenapa saya berpikir demikian? Terlihat iklan Slank ini kurang terkonsep. Baik iklan TV maupun websitenya. Kalo di websitenya orang cuma bisa download lagu, apa iya ada yg mau download? Lha wong lagunya aja belum terkenal kok...
Lebih baik dibuatkan game, animasi, atau apa saja yang interaktif. Misal game ngerokin Kaka Slank yg masuk angin krn suka ga pake baju pas manggung :D

andri said...

#venus
wah dasar, kalo saya malah inget sarah tuh, hihihihi

#tikabanget
tergantung kreatif iklannya sih tik. tapi memang menggunakan orang beken adalah cara gampang untuk membuat orang melirik iklannya, tapi harus hati2 menyesuaikan image sang bintang dengan image si produk

#tuhu
kita tunggu aja mas

#syndez
hehe, brarti antangin nomer 1 di benak situ dong

#iqranegara
saya sih gak brani menilai itu bukan dikonsep sejak awal, takut salah, silahkan pembaca menyimpulkan, hehehehe

jessie said...

Salam kenal, blogger pemula nih.
Bintangin VS antangin kira-kira siapa yang unggul :)

iman brotoseno said...

Ini juga menjadi pembicaraan, sehingga Kalbe memecat biro iklan yang menggarap Bintangin terdahulu lalu mengganti komunikasinya dengan versi baru. Kebetulan memang kantor saya yang mengerjakan produksi film iklannya.
Menurut saya efeknya nggak akan seperti Kuku Bima menggoyang pasar Extra Joss, sehingga mereka panik dan membuat ' gangguan ' pada Tolak Angin. ( Ingat kasus Indofood membuat deterjen Total, untuk mengganggu Wings group yang sudah meluncurkan Mie Sedap untuk menggerogoti pasar Supermie/Indomie ). Kebetulan kemarin juga mengerjakan iklan dari group Deltomed yang memproduski Antangin. Mereka sendiri menyadari Tolak Angin sudah lebih dari 40 tahun membangun brand, mulai dari jamu seduhan sampai sachet. Jadi tidak semudah dalam setahun bisa mengambil pasar loyal peminum jamu.
Jadi prediksi saya, Bintangin tak akan bisa mengambil pasar Tolak Angin. Mereka hanya sekedar ' cek cek ombak ' memecah konsentrasi Irwan Hidayat pemilik Sidomuncul.

Paman Tyo said...

selalu menarik tuh iklan segala jenis "obat masuk angin". kenapa? masuk angin sendiri, kayaknya, secara medis gak jelas itu apa. sebangsa cold & fever? kalo pating greges apa? sebangsa not so well?

masuk angin, kayaknya, sesuatu yang gak urban, gak gaul, gak muda. jadi menarik ketika mereka mencoba mencari ikon untuk pembenar keberadaan gejala dan obatnya. :D

Totok Sugianto said...

yg paling rame sekarang adalah iklan produk operator selular yg saling sindir, seperti halnya bintangin yg menyindir tolak angin hehehe.... tetap seru aja untuk disimak.. toh yg diuntungkan tetaplah konsumen

andri said...

#jessie
itu tergantung stretegi keduanya, tapi saya rasa masih belum mudah untuk menggeser Tolak Angin dalam waktu dekat

#mas iman
yup, ini lebih merupakan perang korporasi, seperti halnya indofood vs wings

#paman tyo
istilah masuk angin memang gak urban gak gaul, tapi tetep dipakai, jadilah ada obat masuk angin. Yang menarik adalah Tolak Angin berhasil membuat jamu "naik kelas" untuk diterima masyarakat urban

#totok
saat ini masih saling sindir saja, karena memang peraturan iklan kita belum memperbolehkan memperlihatkan produk pesaing secara eksplisit. coba bandingkan dengan diluar seperti pernah saya tulis di sini http://aboutandri.blogspot.com/2007/12/perang-lewat-iklan-tv.html

-tikabanget- said...

@ bang andri :
nah..
sayah inget banget ituh iklan A mild "How Low Can You Go" yang tanpa bintang beken.

bener juga.
tergantung kreatif iklannya..

edratna said...

Saya sulit memberi komentar, karena belum pernah mencoba tolak angin maupun bintangin.....tapi kalau lihat orang-orang disekeliling saya, kayaknya tolak angin lebih memimpin pasar.

Kadang memilih suatu obat, juga dipengaruhi oleh sugesti....jadi dirumah saya di Bandung, yang banyak anak kost nya, jenis obat untuk sakit kepala bermacam-macam tergantung tingkat kecocokan masing-masing.

chandil said...

Hati-hati dengan second player, jika pioneer player tidak hati-hati bisa habis pangsa pasarnya digrogoti. Ingat Supermi, siapa sih yang nggak kenal Brand Supermi di era tahun 80 an, eh sekarang kalo kita tanya anak-anak jaman sekarang tau-nya Indomie, siapa tau cucu-cucu kita nanti taunya Mie Sedap....

So ingat kata-kata berikut "Only Paranoid Survive" oleh Andrew S. Grove.

Ada ide dari saya untuk meningkatkan branding dari bintangin ini, mudah-mudahan pihak bintangin bisa memperimbangkannya. Mudah kok, gimana kalo jingle iklan atau lagu yang dibawakan oleh Slank dipromosikan jadi RingTone atau iRing dari HP dan Operator ? Hehehe..., cukup oke lagunya, apalagi oleh para Slankers... pasti Ringtone atau iRing tersebut dipakai...

Gimana bintangin...? Mau coba ide gila saya, mudah-mudahan kalo dijalankan jadi trend iklan di tempat lain dan tentunya diharapkan sukses...

Regards,
Chandil